Hadist Pilihan :
  • Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sodaqohnya. (HR. Ahmad)...
  • Tiada seorang bersodaqoh dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya. (HR. Ahmad)   ...
  • Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi)     ...
  • Orang yang membatalkan pemberian (atau meminta kembali) sodaqohnya seperti anjing yang makan kembali muntahannya. (HR. Bukhari)   ...
  • Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sodaqoh) sebutir kurma. (Mutafaq'alaih)   ...
     

Amanah Penyejuk Mata

E-mail Print PDF

Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah seorang anak dilahirkan, melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah (bersih/ suci). Orangtuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR. Bukhari)

 

Setiap manusia yang sudah berkeluarga senantiasa mendambakan anak.  Anak yang lahir akan disambut dengan sukacita; sang istri bahagia merasa dinobatkan menjadi ‘ibu’, suatu predikat yang sangat mulia; sang suami merasa seakan sempurna akan dipanggil ‘ayah’. Kebahagiaan ini akan senantiasa bertambah jika tumbuh kembang sang ‘anak’ sehat dan si anak menunjukkan prestasi yang sesuai dengan harapan ayah dan ibunya.

Rasulullah SAW menyatakan bahwa setiap anak itu fitrah dan orangtualah yang menjadikannya nasrani atau majusi. Ibarat selembar kertas putih seorang anak siap dibentuk dan diukir oleh orangtuanya. Pada kenyataanya banyak orang yang memiliki anak, tapi tidak siap untuk menjadi orangtua.

Allah SWT berfirman:  “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Firman Allah ini mengingatkan agar kita selalu membuat rencana atas apa-apa yang akan kita lakukan. Maka seyogyanya seseorang yang akan melangkah ke pelaminan membuat rencana jika ia menjadi orangtua nantinya.  Ia harus belajar bagaimana menjadi orangtua yang baik. Anak adalah amanah Tuhan, maka penerima amanah tersebut haruslah berusaha menjaga titipan Allah ini agar sesuai keinginan pemiliknya. Yakni menjadi hamba Allah yang taat dan patuh pada ajaranNya.

 

Kebanyakan orang mendidik anaknya berdasarkan kebiasaan dan pengalaman orangtua mereka saat ia menjadi anak. Tak jarang orangtua berkomentar “kalau mama dulu ..., kalau papa dulu tak seperti kalian…….,  Rasulullah SAW bersabda, ”Hari ini haruslah lebih baik dari hari kemarin”. Artinya kita juga seharusnya mengharapkan anak kita agar menjadi jauh lebih baik daripada kita dan untuk itu tak pantas kita membandingkannya dengan diri kita, karena merekalah bukanlah kita tapi anak kita.

Ada sesuah kisah yang patut kita simak, mengenai peran orangtuaakan kesuksesan anaknya. Alkisah ada  seorang pejabat, ketika pesawat yang ditumpanginya mendarat di sebuah bandara, saat mengambil barang-barangnya  dia meminta bantuan seorang porter. Si pejabat bertanya tarif si porter. ”Sepuluh ribu pak”, jawab si porter. Pak pejabat tertegun, merasa ia pernah mengenal anak muda ini. Mereka pun berjalan menuju tempat taksi. Si pejabat pun ingat, anak muda ini mirip anak temannya di kampung dulu. Ayahnya adalah lulusan sebuah perguruan tinggi terkemuka dan kaya raya!  Anda anaknya Pak Sony?”, akhirnya bertanya pula pak pejabat pada si porter.  Iya”, jawab si porter.  Lho kenapa anda jadi porter? Padahal setahu saya bapak anda orang sukses.” Dengan nada sedih, si porter menjawab, “Salah pak, yang sukses itu kakek saya sehingga ayah saya menjadi orang terkenal dan kaya raya, tapi ayah saya gagal dan hasilnya saya jadi begini”.

Kisah di atas menggambarkan betapa besar peran orangtua dalam membentuk masa depan seorang anak.  Sebagaimana nasehat Rasulullah saw yang menggambarkan anak itu ibarat kertas putih yang siap ditulis dan diukir. Orangtua lah yang mengukir dan menulisnya. Oleh sebab itu sebelum menikah, setiap orang belajar dan berusaha keras memperbaiki dirinya sebab dia akan menjadi “guru” yang diteladani  anak-anaknya. Buatlah rencana apa yang akan anda berikan kepada anak –anak anda.

Secara prinsip, ada bebrapa hal yang perlu direncanakan orangtua :

(1)Rencanakan pendidikan anak dengan menabung atau ikut program yang ditawarkan dalam bentuk produk-produk bank atau asuransi. Pastikan bahwa produk yang anda pilih masuk dalam LPS (lembaga Penjamin Simpanan),

(2) Pantau dan evaluasi tumbuh kembang anak Anda. Perhatikan berat badannya, cek imunisasinya, catat semua penyakit  dan obat-obat yang diberikan padanya, menabunglah sehingga jika si anak sakit  sudah ada  dana untuk pengobatannya.

(3) Rencanakan dan latih anak untuk hidup sehat. Biasakan anak makan sayur-sayuran dan buah-buahan sehingga mereka disiplin terhadap waktu makan dan  berbadan sehat.

(4) Catat setiap peristiwa penting dalam hidupnya. Sebagai orangtua, hendaknya orangtua lah  yang pertama mengetahui kapan  pertama kali si anak  mampu berdiri, berjalan, bahkan saat pertama mengucapkan kata-kata. Alangkah indah jika kata yang pertama diucapkan adalah Allah. Idealnya anak  mengenal huruf dan bisa membaca dari apa yang diajarkan orantuanya. Ajarkan sejak dini anak Anda membaca huruf latin dan membaca Al Quran.

(5) Tanamkan  disiplin pada anak. Mulai dari disiplin shalat tepat waktu, menyikat gigi saat mau tidur, menyiapkan keperluan sekolah, mengerjakan tugas, mempersiapkan keperluan esok pada malam sebelumnya. Dalam mengajarkan disiplin sholat, banyak orangtua yang tidak tega membangunkan anaknya untuk shalat subuh, sehingga saat dewasa pun sulit baginya untuk shalat subuh. Itulah sebabnya masjid/mushala hanya sebaris jamaah shalat subuhnya.

 

Allahu wa rasulu a'lam bishshawab.

 

Rekening Amal AMANY

Zakat : No.007.007.0900
a.n Percikan Iman/zakat
Wakaf : No.007.007.3000
a.n Percikan Iman/wakaf
Infaq : No.007.007.1010
a.n Percikan Iman/infaq
OTA : No.007.007.1771
a.n Percikan Iman/orang tua asuh
Kemanusiaan : No.007.024.000.1
a.n Percikan Iman/kemanusiaan
Pengangguran : No.007.0233.233
a.n Percikan Iman/atasi penganguran

Bersanding dengan Nabi di Syurga

Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari).
Read More

Testimonial

Ruang Testimonial

Amany Event

Ruang Testimonial

Report Bulanan

Ruang Testimonial
Amany Percikan Iman