Hadist Pilihan :
  • Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sodaqohnya. (HR. Ahmad)...
  • Tiada seorang bersodaqoh dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya. (HR. Ahmad)   ...
  • Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi)     ...
  • Orang yang membatalkan pemberian (atau meminta kembali) sodaqohnya seperti anjing yang makan kembali muntahannya. (HR. Bukhari)   ...
  • Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sodaqoh) sebutir kurma. (Mutafaq'alaih)   ...
     

MUDIK Ke kampung Akhirat

E-mail Print PDF

Mudik lebaran. Itulah aktifitas tahunan yang sulit untuk ditinggalkan apalagi dihilangkan. Sudah menjadi kebiasaan yang seakan sudah mendarah daging di setiap insan manusia Indonesia di perantauan. Jika satu kali saja tidak sempat mudik ke kampung halaman, seakan ada yang hilang, sehingga membuat hati gelisah, cemas dan bimbang. Berbagai upaya pun diusahakan demi terealisasinya satu kata, “Mudik”. Tak peduli betapapun kesulitan dan kesukaran yang dihadapi untuk itu. Antrian panjang hanya untuk mendapatkan tiket mudik, lama-lama menunggu keberangkatan pesawat, berhimpit-himpitan masuk ke kapal Fery,  berdesak-desakan di kereta, berjubel di bus, kemacetan panjang di perjalanan, bahkan ada yang capek-capek bersepeda modor dengan resiko kehujanan dan kepanasan. Tidak sedikit pula yang harus menanggung resiko kecelakaan, luka-luka dan ada pula yang berujung pada kematian.

 

                Mudik, adalah hal yang sangat-dinanti-nanti sekaligus merupakan obat kebahagiaan. Jauh-jauh hari sebelum waktunya tiba, mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Segala rencana disusun sedemikian rapih. Dana disiapkan sebanyak mungkin. Kendaraan terbaik disediakan khusus pengantar mudik. Segala perbekalan dan oleh-oleh pun di kumpulkan. Semua itu disiapkan hanya untuk bekal mudik ke kampung halaman.          

                Mudik, adalah aktifitas yang hanya dilakukan oleh mereka yang merantau, jauh dari kampung halaman. Bagi mereka, mudik merupakan satu hal yang istimewa dan merupakan kenikmatan yang luar biasa. Mengapa? Karena ada sesuatu yang menjadi tujuan. Ada secercah harapan terpancar jauh dari kampung halaman. Ada bayangan wajah sayu Ibu-Bapak yang sudah mulai keriput tapi tetap menebarkan senyum yang penuh makna. Ada gelak tawa dan canda yang membingkai keceriaan pertemuan dengan saudara-saudara yang sekian lama tidak bertemu.

                Mudik adalah Fitrah. Setiap manusia yang sekian lama meninggalkan kampung halaman, secara fitrah pasti ingin pulang. Jika tidak pasti akan timbul keresahan dan kegundahan. Betapapun indahnya perjalanan wisata yang kita lakukan, ujung-ujungnya pun kita ingin pulang. Ada temuan yang menarik terkait masalah ini, ternyata bayi lebih merasa nyaman jika digendong oleh ibunya pada sisi kiri. Mengapa? Karena detak jantung ibu lebih bisa tertangkap oleh si bayi. Detak jantung yang sama yang dulu bayi itu dengarkan sewaktu berada dalam kandungan ibu. Bayi tersebut seakan-akan merasa pulang ke tempat awalnya. Singkatnya, setiap manusia di dunia ini pasti senantiasa rindu untuk pulang ke asal muasalnya.Yah, sebuah fitrah cinta dan kerinduan. Cinta dan kerinduan seseorang senantiasa akan membekas pada ”sesuatu” yang pertama. Rasulullah saw., meskipun beristri banyak dan sangat mencintai istri-istrinya khususnya A'isyah ra., tetapi posisi Khodijah di hati Beliau tidak bisa digantikan oleh mereka, karena Khodijah adalah cinta pertama Beliau. Inilah fitrah yang tidak bisa diabaikan. Termasuk di dalamnya, fitrah manusia untuk pulang ke kampung halaman. Meskipun tidak ada keharusan, tetapi sulit sekali membendung kerinduan itu.  

   

KEMBALI KEPADA FITRAH PENCIPTAAN

                Mudik merupakan kegiatan pulang yang dilakukan oleh manusia ke kampung halamannya di dunia dimana di situ mereka pertama kali dilahirkan. Perlu kita ketahui bahwa, kampung halaman kita didunia itu sifatnya relatif. Tempat tinggal kita yang sebenarnya akan kita jumpai setelah kematian. Tempat itu adalah kampung akhirat…., “ Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”

(QS.Al-An'am[6]:32).          

                Asal muasal kita yang pertama kali ternyata bukanlah di dunia, tetapi di alam ruh di sisi Allah SWT. “Dari Allah lah kita berasal dan kepadaNya lah kita akan kembali” (QS Al-Baqoroh[2]:156). Dan di sisi Allah tersebut kita telah melakukan persaksian akan keesaan Allah sebagai Rabb kita. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-A'raf[7]:172,“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

                Peristiwa pengambilan persaksian yang dikisahkan dalam ayat di atas merupakan peristiwa maha dahsyat yang pernah dialami oleh manusia. Bagaimana tidak?! Ketika itu jiwa manusia tengah diambil persaksian secara langsung oleh Dzat yang maha kuasa, maha perkasa, maha besar dan maha indah, dimana keindahan semesta raya tidak berarti apa-apa dibanding keindahan-Nya. Peristiwa pengambilan persaksian maha dahsyat tersebut pada hakekatnya menghujam kuat dalam diri manusia, tidak hanya mempengaruhi alam bawah sadar, bahkan masuk ke dalam fithrah, sehingga termasuk fithrah manusia untuk senantiasa ingin pulang, rindu dan kembali kepada-Nya. Dari-Nya kita berasal dan kepada-Nya kita kembali. Innā liLlāhi wa innā ilaihi rāji'ūn.       

                Namun, kita sering kali terkecoh. Fitrah dan kerinduan sejati kita untuk kembali kepada-Nya tersebut sering kali tertutup oleh keindahan dunia yang semu dan imitasi. Dunia yang seharusnya hanya kita jadikan sebagai sarana untuk membuktikan sejauh mana kerinduan dan kecintaan kita kepada-Nya justru berbalik menjadi tujuan yang melalaikan kita dari-Nya. WaLlāhu musta'ān.      Mari sejenak kita renungkan dalam hati kita masing-masing. Masihkah kita ingat persaksian itu? Apakah kita masih komitmen terhadap persaksian itu? Apakah kita masih ingat akan kampung halaman kita yang sesungguhnya? Sudahkah kita mempersipkan segala sesuatu dan perbekalan menuju alam akhirat seperti halnya kita sibuk mempersipakan mudik lebaran?          

                Jika kita rela berdesak-desakan dalam kereta, bus dan berjubelnya jalan raya, maka seharusnya kita juga rela berdesak-desakan dan berebut dalam shaf pertama sholat. Seharusnya kita rela berlomba-lomba menebarkan kebaikan dalam rangka mendapatkan tiket surga di kampung akhirat. Jika kita menyiapkan dana begitu banyak untuk mudik, sudah sepantasnya kita persembahkan jiwa dan harta kita di jalan Allah SWT. Jika kita mudik ingin melihat wajah orang tua, saudara dan indahnya kampung halaman, maka sudah seharusnya kita juga punya harapan dan keinginan untuk bisa menikmati keindahan surga dan kenikmatan melihat wajah Allah Azza wa jalla, karena inilah kenikmatan yang sesungguhnya. Seluruh penduduk surga meskipun telah menikmati segala keindahan surga dengan segala apa yang ada di dalamnya berupa bidadari-bidadari yang jelita, permadani beraneka warna, buah-buahan beraneka jenis dan rasa, tempat tidur yang nyaman dan aneka kenikmatan lainnya, mereka semua masih belum meraskan kenikmatan yang sesungguhnya kecuali setelah mereka melihat wajah Allah SWT.

 
 

Rekening Amal AMANY

Zakat : No.007.007.0900
a.n Percikan Iman/zakat
Wakaf : No.007.007.3000
a.n Percikan Iman/wakaf
Infaq : No.007.007.1010
a.n Percikan Iman/infaq
OTA : No.007.007.1771
a.n Percikan Iman/orang tua asuh
Kemanusiaan : No.007.024.000.1
a.n Percikan Iman/kemanusiaan
Pengangguran : No.007.0233.233
a.n Percikan Iman/atasi penganguran

Bersanding dengan Nabi di Syurga

Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari).
Read More

Testimonial

Ruang Testimonial

Amany Event

Ruang Testimonial

Report Bulanan

Ruang Testimonial
Amany Percikan Iman