Hadist Pilihan :
  • Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sodaqohnya. (HR. Ahmad)...
  • Tiada seorang bersodaqoh dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya. (HR. Ahmad)   ...
  • Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi)     ...
  • Orang yang membatalkan pemberian (atau meminta kembali) sodaqohnya seperti anjing yang makan kembali muntahannya. (HR. Bukhari)   ...
  • Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sodaqoh) sebutir kurma. (Mutafaq'alaih)   ...
     

Banjir; Tragedi Klasik Kemanusiaan

E-mail Print PDF
 

Sore itu awan menutupi langit begitu hitamnya, selang beberapa menit kemudian hujan pun mengguyur Kota Bandung dengan derasnya. Manusia - manusia kota terlihat asyik menikmati hujan tersebut dengan secangkir kopi atau teh panas di kafe yang terletak di pinggir pusat perbelanjaan. Ada juga yang terburu-buru menghentikan angkutan umum dan bergegas masuk ke dalamnya beserta jinjingan barang belanjaan. Jalanan - jalanan yang basah kini mulai sepi dengan lalu lalang manusia. Hujan telah menggiring mereka untuk lekas pulang sehingga mereka tak lagi memilih-milih angkutan umum, yang penting mereka bisa segera pulang. Perasaan lega karena terhindar dari hujan pun tak bisa disembunyikan, malah terkadang mereka melirik penumpang yang basah kuyup dengan puas. Hujan telah membawa rejeki bagi tukang angkot, mereka bisa tersenyum lebar karena uang setoran hari ini dapat terpenuhi. Namun hujan pun membawa cerita lain bagi warga yang rumahnya terletak di pinggiran sungai atau bagi tukang angkot yang mesin motornya mati karena tergenang air di tengah-tengah kemacetan.

 

Di daerah yang lain, senyum dan perasaan lega telah berubah menjadi kecemasan dan kekesalan. Air meluap memenuhi jalanan, namun warnanya bukanlah warna coklat tanah. Tapi warna ungu atau biru yang mengandung limbah dari pabrik-pabrik sepanjang Jalan Palasari  (Moh-Toha-Dayeuhkolot). Para sopir angkot sama-sama mengeluhkan keadaan yang terjadi di sana, beberapa dari mereka terpaksa menurunkan penumpang di tengah genangan air karena mesin motornya mati. Ada juga yang memutar arah ke jalan tol atau malah ada yang mengambil jalan pintas namun tercebak macet juga karena Bandung Selatan terkena banjir yang cukup besar.Hal di atas sudah menjadi sesuatu yang biasa dijalani oleh mereka yang sebagian besar adalah para buruh pabrik, dan mereka merasakan ini hampir setiap hari selama Februari. Volume air di sungai Citarum dan anak-anak sungai Citarum semakin besar, sehingga memutuskan jalur transportasi. Banjir melanda kawasan itu selama berhari-hari. Dimulai pada hari pertama, saat hujan turun dengan derasnya dan dilanjutkan hari-hari selanjutnya. Banjir telah merubah semua emosi positif menjadi negatif, bahkan tatanan kehidupan sosial pun menjadi sedikit bergeser. Anak-anak yang tempat tinggalnya di kawasan banjir, mereka kadang terhambat untuk pergi ke sekolah bahkan kebanyakan dari sekolah mereka tertelan banjir. Hal tersebut juga dialami oleh para pekerja yang harus melewati banjir untuk sampai ke tempat kerjanya. Perabotan di rumah mereka pun tak jarang rusak atau hilang terbawa banjir. Sawah-sawah yang siap panen pun musnah sudah, hingga kerugian materi dan kesehatan karena banjir tak bisa dipungkiri lagi. Data statistik menunjukan secara hidrologi, Kota Bandung memang memiliki curah hujan yang  relatif cukup tinggi. Hingga rata-rata 156,4 dan jumlah hari hujan rata-rata 15 hari per bulan. Di kota ini, mengalir 46 sungai dan anak sungai dengan total panjang 252,55 km yang seluruhnya bermuara ke Sungai Citarum. Meski merupakan dataran tinggi di bagian Utara, namun dibagian Tengah dan Selatan memiliki kemiringan 0 hingga 2,3 %, menjadikan kawasan ini berpotensi banjir. Itulah yang diungkapkan oleh Dinas Statistik dan Komunikasi Kota Bandung.Potensi banjir ini telah menjadi kenyataan yang merugikan banyak orang dan telah menjadi bencana tahunan. Pemulihan fungsi sungai Citarum masih menjadi PR (Pekerjaan Rumah) besar dan agenda tahunan hingga saat ini, khususnya PemKot Kabupaten dan Kota Bandung. Bertahun-tahun sudah pemulihan Sungai Citarum ini telah menjadi salah satu agenda Nasional pemerintah. Sampai kini tetap saja setiap tahunnya, pada bulan-bulan yang tak bisa kita perkirakan secara tepat, hujan yang terus menerus telah membawa luapan air dan menenggelamkan sebagian kawasan, baik di Kabupaten Bandung maupun kota-kota lainnya. Banyak hal yang menjadi faktor penyebab volume air di sungai Citarum dan anak-anak sungainya semakin meningkat. Ada persoalan klasik yang tetap menjadi persoalan hingga kini, yakni pengalihan fungsi hutan menjadi areal perkebunan diyakini menjadi salah satu faktor penyebab banjir yang melanda kawasan sungai Citarum. Ditambah lagi perubahan areal sawah menjadi pabrik-pabrik pembuang limbah juga berkontribusi terjadinya banjir. Jika kita telusuri lebih dalam lagi, faktor penyebabnya sangatlah beragam. Mulai dari hal yang disengaja, semisal penebangan liar (illegal logging), pengalihan fungsi kawasan hutan menjadi areal perkebunan, hingga suatu hal yang berada diluar kemampuan manusia (fenomena alam). Akan tetapi, dari sekian banyak faktor penyebab tersebut, bentuk-bentuk eksploitasi sumber daya hutan, adalah hal paling utama yang menyebabkan banjir ini. Semua itu adalah “ Ulah tangan manusianya sendiri. Tak heran kalau banjir kini sudah diidentifikasikan sebagai sebuah tragedi kemanusiaan dan menjadi perbincangan serius di masyarakat, khususnya para pecinta lingkungan. Kerusakan hutan menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi terjadinya krisis ekologi tersebut, sehingga mengakibatkan makin banyak dan meluasnya tragedi banjir di tanah air. Hal yang sangat memilukan hati, yakni seiring tumbuhnya perindustrian dan semakin meningkatnya hasil industri yang dihasilkan, tumbuhnya perkebunan - perkebunan baru dengan beragam hasil bumi seperti kentang dan sayuran lainnya, itu semua harus di bayar dengan bencana banjir bagi saudara-saudara kita, hanya karena ulah sebagian manusia lain yang tidak melestarikan ekologi alam ini. Permasalahan banjir juga banyak dipicu oleh perilaku manusia yang tidak seharusnya dilakukan, seperti membuang sampah di sungai dan pendirian bangungan - bangunan di sepanjang bantalan sungai. Hal ini menjadikan sistem jaringan mengalirnya air, baik saluran tertier maupun anak sungai, hirarkinya menjadi terputus. Tidak sedikit sistem jaringan itu berada dibawah dan tertutup bangunan, menyempit, dihilangkan, ditimbun dan digeser. Belum lagi jaringan utilitas umum listrik, kabel telepon dan pipa air bersih ataupun air kotor yang melintang diatas sungai. Hal ini menambah daftar panjang kelalaian manusia yang nantinya mengakibatkan banjir.Kita tentu prihatin melihat rumah-rumah yang terseret air atau berhari-hari terbenam banjir. Banyak warga yang mengungsi, mereka kekurangan makanan dan mulai terkena berbagai macam penyakit di daerah pengungsian. Sesungguhnya kepedihan mereka adalah kepedihan kita juga. Coba kita telisik lebih dalam lagi. Sesungguhnya bencana banjir ini, apakah murni karena fenomena alam atau justru ini terjadi karena ulah kita sendiri? Atau Allah SWT menurunkan bencana ini sebagai peringatan atas dosa-dosa yang telah kita lakukan selama ini? Semua tidak ada  yang tahu .Satu-satunya yang harus kita lakukan adalah menumbuhkan kesadaran bahwa segala kemungkinan penyebab tragedi banjir ini bisa jadi benar. Tragedi ini pun harus menjadi sebuah perenungan yang mendalam akan kesadaran kita menjaga lingkungan, baik di mulai dari membuang sampah pada tempatnya sampai keseriusan kita menjaga hutan serta pepohonan yang asri sebagai penyangga kawasan tempat tinggal dan aktivitas kehidupan lainnya. Ketuklah nurani kita, jangan sampai semuanya kalah oleh nafsu yang selalu ingin memiliki dunia dan hanya mencari keuntungan untuk kepentingan  pribadi semata, bahkan tak segan-segan tega melihat orang lain terkena bencana akibat tangan kita. Kalau toh pun ada sebuah kebenaran bahwa selama ini kita sebenarnya ikut berkontribusi sebagai penyebab bencana itu, marilah bersama-sama merenungi dan bergerak menuntaskan masalah klasik ini. Sesungguhnya apa pun yang kita lakukan haruslah kita pertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Maka perbaiki dan bayarlah segera perbuatan kita, di sini ...di dunia ini..., selagi waktu kita masih ada. Jadilah solusi dengan memperbaiki diri, berilah mereka yang membutuhkan sebagian dari rejeki yang kita miliki, karena sesungguhnya di sisi Allah SWT itu lebih baik. Dan ganjaran orang yang membantu seadanya dengan orang yang berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi solusi bagi umat, kualitas keimanan mereka di mata Allah SWT tentulah akan sangat jauh berbeda. Semoga kita termasuk orang-orang pemberi solusi. Amin.Wallahu’alambishawabRedaksi/Iin & Saloka
 

Rekening Amal AMANY

Zakat : No.007.007.0900
a.n Percikan Iman/zakat
Wakaf : No.007.007.3000
a.n Percikan Iman/wakaf
Infaq : No.007.007.1010
a.n Percikan Iman/infaq
OTA : No.007.007.1771
a.n Percikan Iman/orang tua asuh
Kemanusiaan : No.007.024.000.1
a.n Percikan Iman/kemanusiaan
Pengangguran : No.007.0233.233
a.n Percikan Iman/atasi penganguran

Bersanding dengan Nabi di Syurga

Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari).
Read More

Testimonial

Ruang Testimonial

Amany Event

Ruang Testimonial

Report Bulanan

Ruang Testimonial
Amany Percikan Iman