Kasih sayang dan minat yang sungguh-sungguh dari orang tua merupakan senjata yang ampuh untuk menghadapi semua tantangan hidup yang akan dialami oleh anak-anak yang masih tidak tahu apa-apa ketika mereka diasuh oleh ayah dan ibunya ( Laurel Schmidt )
Pentingnya aspek pendidikan anak tampaknya mulai disadari sepenuhnya oleh para orangtua dewasa ini. Sejak anak berusia dini para orangtua sudah sangat mencemaskan masalah ini. Salah satu buktinya ialah maraknya orang tua yang memasukkan putra putrinya ke program pendidikan pra sekolah sebelum memasukan mereka ke sekolah dasar.
Tentunya hal ini sangat menggembirakan karena mencerminkan semakin meningkatnya kesadaran orangtua akan pentingnya arti pendidikan. Sayangnya, kesadaran para orangtua ini kerap kali tidak dibarengi dengan pemahaman tentang pendidikan seperti apa yang semestinya diperoleh oleh sang anak.
Akhirnya yang dilakukan oleh orangtua hanyalah menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada para pengelola lembaga pendidikan. Kondisi inilah yang menjebak mereka pada pemahaman yang seragam bahwa anak mesti dicetak menjadi pintar sedini mungkin dengan hanya memasukan anaknya ke lembaga-lembaga pendidikan. Padahal itu belum sepenuhnya benar.Kecintaan orangtua terhadap anaknya-lah yang akan menjadikan sang anak menjadi manusia yang serba bisa. Begitulah Pak Hernowo menuturkannya pada sebuah buku “Guruku” karya Marty Layne. Semua itu bisa anak dapatkan hanya di sebuah tempat yang bernama “Rumah”. Karena itu pendidikan di rumah sangatlah penting, bahkan beberapa sekolah swasta mulai meniru denah rumah untuk membangun sekolah mereka. Hal ini ditujukan agar anak merasa saat belajar di sekolah seperti belajar di rumahnya.
Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Ustadz Aam Amiruddin, menurut beliau langkah pertama dalam mendidik anak adalah memulai dengan mendidiknya di “Rumah yang Sholeh”. Ciri-ciri “Rumah yang Sholeh” adalah ketika orangtua menjadikan agama sebagai pondasinya, mengutamakan keteladanan bagi anak-anaknya, memberikan dan menerima segala sesuatu dengan cinta sebagai atapnya, serta mempercantik itu semua dengan jiwa sabar dan syukur kepada Yang Maha Kuasa.
Karena hal itulah, Pak Hernowo pun mengungkapkan bahwa belajar di rumah adalah belajar dalam balutan penuh kearifan dan kehangatan. Kenapa demikian? Karena di rumah ada guru-guru yang paling arif dan bijaksana, yakni orangtua yang mencintai anak-anaknya. Dikala anaknya melakukan kesalahan, atas rasa cintanya yang mendalam orangtua tidak akan dengan begitu saja memarahi dan menyalahkan anak. Mereka memahami betul bahwa anaknya adalah manusia yang sedang belajar. Ketika kita sedang belajar, kesalahan mungkin saja banyak dilakukan. Seperti halnya seorang anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Ia belajar berjalan, namun berkali-kali jatuh. Di sinilah kearifan orangtua terlihat, melihat anaknya terjatuh ia terus memotivasi anaknya supaya berdiri kembali, menghapus airmatanya dan membantunya untuk kembali mencoba melangkahkan kakinya lagi. Meskipun berkali-kali melakukan kesalahan, orangtualah adalah manusia terarif yang bisa memaafkan kesalahan anak-anaknya.
Selain memiliki kearifan, orangtua pun adalah sosok manusia yang penuh kehangatan. Sebagaimana ia arif dengan cintanya, ia pun hangat dengan cinta yang dimilikinya untuk anak-anaknya. Mereka tak hanya mendekat dan memeluk anaknya namun mengajarkan senyuman sebagai bahasa yang akan diterima oleh semua orang dan tawa bahagia mereka yang khas ditunjukkan kepada anak-anaknya akan membuat hidup anak cerah dan berwarna-warni.
Bila ada guru paling arif dan bijaksana, tentunya rumah akan menjadi tempat belajar yang paling aman dan menyenangkan bagi anak-anak. Proses tumbuh kembang anak-anak pun akan terlaksana dengan optimal, bahkan mereka akan lebih siap memasuki tempat belajar yang lebih besar. Yakni sekolah dan kehidupan mereka.
Terinsipirasi dari buku-buku Hernowo & Ustad Aam Amiruddin
Redaksi/Iin&Sandi









Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari). 