“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”
(QS. At Tiin [95]: 4-6)”
Kemerdekaan merupakan karunia yang tiada duanya dan hanya dianugerahkan kepada sebaik-baik penciptaan, yakni manusia. “Merdeka” berarti sebuah kata yang menyatakan adanya kepemilikan seseorang akan kebebasan untuk memilih pilihan-pilihan dalam hidup ini. Namun bukan berarti dia bisa seenaknya saja bersikap dan berperilaku.
Ada sebuah analogi kemerdekaan yang patut kita renungkan. Seorang pengendara mobil atau motor ketika berada di jalan raya, ia punya kemerdekaan untuk memilih kecepatan dan arah kendaraannya. Tapi kemerdekaannya tersebut akan tercabut saat ia tidak menaati peraturan lalu lintas karena dia memaknai kemerdekaaan dengan menggunakan jalan seenaknya. Hal yang mungkin terjadi adalah bisa saja pengendara mengalami kecelakaan seperti menabrak orang atau menyerempet orang maupun kendaraan lain. Bisa juga kena tilang karena salah belok atau berhenti. Beberapa kasus pelanggaran di jalan raya tersebut terkadang ada juga yang berakhir dipenjara atau kendaraannya disita polisi. Bahkan yang terparah, berakhir dengan kematian. Padahal kemerdekaan yang kita miliki berlaku selama kesempatan hidup di dunia belum berakhir.
Peristiwa-peristiwa di atas mengajari kita bahwa kemerdekaan akan berbuah kebahagiaan bila dilandasi dengan sikap taat terhadap aturan dan saling menghormati serta menjaga hak dan kewajiban. Dalam contoh diatas adalah hak dan kewajiban sesama pengguna jalan dan rambu-rambu lalu lintas.
Maka dengan kemerdekaan yang kita miliki, menurut Anis Matta kita bisa menjadi manusia yang paripurna. Tapi dengan kemerdekaan pula manusia bisa menjadi manusia yang berada di titik terendah bahkan lebih rendah dari pada hewan.
Seperti itulah gambaran kemerdekaan yang sesungguhnya, hakikat dari kemerdekaan adalah kata lain dari ‘Kebebasan Memilih’. Hidup memang penuh dengan pilihan dan kualitas hidup seseorang merupakan wujud dari pilihan-pilihannya di masa lalu. Setiap manusia telah ilhamkan kepada jiwanya untuk memilih jalan kefasikan atau cendrung memilih jalan ketakwaan (QS Asy-Syams [91]: 8). Dalam ayat selanjutnya Allah SWT menerangkan bahwa "Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (QS Asy-Syams [91]: 8-10).
Sebentar lagi moment untuk mengisi kemerdekaan dengan kualitas amalan pilihan akan segera tiba. Dialah bulan yang didalamnya terdapat malam yang lebih baik dari pada seribu bulan, yakni Bulan Ramadhan. Tak terasa memang dari Ramadhan ke Ramadhan begitu singkat, seolah baru kemarin ternyata hanya jelang beberapa hari lagi. Begitulah waktu di dunia, seolah tak terasa bergulir.
Ada dua kemerdekaan yang harus kita siapkan dan kita capai dalam menyambut maupun mengisi Bulan Ramadhan yang tinggal menghitung hari ini. Belajar bagaimana menjadi manusia yang merdeka secara lahir bathin. Merdeka dari sisi lahir, yakni merdeka secara fisik dan jasmani.
Sedangkan dari sisi bathin seperti mental, emosional, serta ruhani atau spirit kita.
Ada kemerdekaan yang lebih utama untuk dicapai seorang manusia, yaitu kemerdekaan secara batin. Tanpa kemerdekaan dari batin - walau secara fisik dia merdeka - dia tidak memiliki kematangan emosi untuk memilih rangkaian pilihan di kehidupan ini. Kualitas kemerdekaan batin seorang manusia dilihat pada pikiran dan ruhaninya, apakah telah terbebas dari belenggu hawa nafsu atau tidak?. Bukan berarti kita lebih memilih terpenjara fisiknya daripada terpenjara mental, emosi, atau ruhaninya melainkan jangan sampai kita menjadi orang yang merdeka fisiknya saja, sementara hidupnya terpenjara hawa nafsu dan jauh dari hidayah Allah SWT.
Hal terpenting dan harus menjadi prioritas kita sekarang dalam menyambut maupun mengisi bulan Ramadhan adalah memerdekakan pikiran kita dari kebodohan dengan menuntut ilmu, memerdekakan emosi dari kebencian, dendam, rasa marah, dan ketakutan. Serta memerdekakan ruhani dari belenggu hawa nafsu yang membutakan.
Cara memulainya adalah dengan "Berpegang teguhlah (iltizam) engkau kepada syariat Allah SWT dengan landasan ilmu, gemarkan beristighfar, perbanyak tasbih dan doa, dan lakukanlah amal saleh dengan sepenuh hati". Itulah yang dikatakan Ibnu Taimiyah kepada murid-muridnya. Salah satu amal shaleh yang Rasulullah SAW nasehatkan pada khutbahnya menyambut Bulan Ramadhan adalah berbagi dan mengulurkan tangan kita kepada mereka yang membutuhkan. Melatih diri untuk bisa memberi, karena sesungguhnya disebagian harta yang kita miliki terdapat hak saudara-saudara kita. Bila kita mendermakannya, pahalanya akan sangat luar biasa.
Rasulullah SAW bersabda: “Wahai manusia! Barangsiapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah SWT nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu”. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”
Memang ada benarnya hal yang diungkapkan oleh sahabat-sahabat lainnya, namun ketidakmampuan atau keterbatasan diri takkan jadi masalah. Ajaran Islam tidak menuntut setiap orang untuk mendermakan harta yang banyak. Bila kita belum dititipi banyak harta, maka shodaqohkanlah apa yang kita miliki saat ini. Karena dikhutbahnya Rasulullah SAW pun menjelaskan bahwa : “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”
Sebiji kurma dan seteguk air itulah yang mungkin saja akan menghantarkan kita ke surga. Karena kita tidak tahu pasti amalan mana yang akan membuat kita masuk surga.Jagalah Keistiqomahan kita dalam berShodaqoh walau hanya Sebiji Kurma dan Seteguk Air.
Wallahushawab
Redaksi/iin
Dari berbagai sumber









Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari). 