Jeritan dan tangisan saudara kita di berbagai daerah yang tertimpa bencana alam dan bencana sosial politik terdengar nyaring dan menyayat-nyayat, seakan-akan ingin membuka tirai tebal yang menutup hati kaum muslimin dan bangsa Indonesia. Bencana-bencana tersebut menambah berat saja beban kaum Muslimin dan bangsa yang selama beberapa tahun terakhir dilanda krisis berkepanjangan. Adalah Krisis moneter, krisis ekonomi, krisis politik dan krisis moral merupakan pangkal awal penyebabnya. Kondisi seperti ini masih sangat kental terasa bahkan menjelang hari raya kurban tahun 1431 H kali ini.
Terkait dengan moral, nilai kemanusiaan dan Idul Adha, surat Al-Kautsar (QS. 108: 1-3) memberikan pesan tentang 3 hal penting dalam hidup ini :
Artinya : 1) Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, 2) maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah, 3) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).
Dari ayat diatas terdapat tiga kata kunci penting dalam hidup ini, yaitu nikmat yang banyak, shalat, dan berkurban. Allah telah memberikan karunia dan nikmat yang teramat banyak, segala sisi dalam hidup ini penuh dengan nikmat. Jika ingin agar nikmat tersebut lestari maka lakukanlah Shalat, karena fungsi sholat adalah memperkuat hubungan vertikal agar nikmat tersebut memiliki nilai transenden dan hakiki. Selain itu, lakukan Pengorbanan agar secara sosial nikmat tersebut menjadi nikmat untuk sesama. Mungkinkah orang mampu merasakan nikmat Tuhan jika ia hanya merasakannya untuk dirinya sendiri? Jawabannya : Tidak mungkin. Ia harus merasakan setiap nikmat yang dikaruniakan ALLAH kepadanya bersama dengan orang lain, karenanya berkurban merupakan keniscayaan agar nikmat itu dirasakan oleh orang lain dan memperoleh nilai hakikinya. Bukan nikmat semu tetapi nikmat yang merasuk dalam hidup kita selamanya.
Kurban merupakan kata kunci bagi terciptanya harmonitas masyarakat dan bangsa. Tanpa pengorbanan, cita-cita luhur pembangunan hanyalah retorika belaka. Kepedihan yang menimpa sekian banyak umat Islam dan bangsa ini juga berawal dari tidak adanya pengorbanan yang sejati. Yang terjadi saat ini hanyalah sebuah perbincangan, harapan, dan retorika politis tentang pengorbanan dan belum menjadi kurban dalam arti yang komprehensip yaitu berkorban ilahiyah-vertikal dan sosial-horisontal.
Pengorbanan sejati pasti didasari oleh adanya niatan yang tulus karena Allah Swt. Dan bukan untuk ajang unjuk kekayaan dan prestise. Motivasi berkurban adalah untuk Taqarrub, (mendekatkan diri agar kita bisa lebih dekat dengan pencipta kita). Berkurban juga harus didasari oleh pertimbangan akal-rasio dan ilmu yang memadai yaitu untuk kepentingan kemaslahatan, kemakmuran dan kedamaian masyarakat umum. Berkurban dengan menyembelih kambing, kerbau atau sapi adalah sebagian dari berkurban dalam arti yang luas. Berkurban juga dapat dilakukan dengan penyediaan fasilitas umum, penyediaan fasilitas pendidikan yang representatif untuk membangun SDM, pelestarian alam agar alam selalu bersahabat dengan kita tetap dan bertambah subur, indah, dan nyaman bagi kehidupan setiap makhluk, bisa juga dengan mernyisihkan sebagian hartanya untuk menjadi orang tua asuh anak-anak prestatif yang dhu’afa seperti di Beasiswa Percikan Iman (BsPI) & Beasiswa Da’I Untuk Indonesia (DUNIA), bahkan ikut serta berpartisipasi ke program kesehatan menjadi Mitra Kartu Sehat AMANY.
Berkurban juga harus didasari oleh kesadaran akan pesan moral-etis yang terkandung di dalamnya sehingga ada upaya yang terus menerus untuk meningkatkan spiritualitas diri dan masyarakatnya.
Di antara pesan moral, ahlak yang dapat kita sebutkan adalah :
- Berkurban berarti adanya kesediaan untuk memotong sebagian kekayaan kita yang berwujud kambing, kerbau, sapi untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas. Dalam hal ini berkorban juga kesediaan untuk memotong sebagaian kekayaan lain seperti ayam, padi, pakaian, tempat tinggal atau pekarangan dan uang untuk dimanfatkan oleh diri, keluarga dan masyarakat luas.
- Berkurban berarti adanya kesediaan untuk memotong sebagaian tenaga yang kita miliki untuk kepentingan umum, untuk keluarga, untuk saudara-famili, tetangga, dan masyarakat serta bangsa. Orang yang telah terilhami makna kurban, ia akan senantiasa siap bergaul dengan baik dengan lingkungan sosial (juga fisik-material) di sela-sela kesibukannya.
- Berkorban berarti adanya kesediaan untuk menyebarkan ilmu dan keterampilannya (dakwah dan ta’lim) untuk pemberdayaan masyarakat dengan mengajar anak-anak dan remaja serta mengajar setiap orang yang membutuhkan seperti mengajar tentang baca-tulis (al-Qur’an), ilmu-pengetahuan, pekerjaan (skill) dan kemasyarakatan. Berkorban dalam arti ini juga kesediaan untuk ikut berpartisipasi dalam mencari alternatif penyelesaian problem atau masalah keummatan dengan memeras otak dan fikiran untuk memperoleh hasil pemikiran yang benar-benar orisinil, maslahat, dan menyentuh kebutuhan umat.
- Berkorban untuk berpartisipasi dalam proses kepemimpinan (imamah) dan memegang kepemimpinan dengan penuh tanggungungjawab (amanah). Seseorang berkenan menjadi pemimpin untuk kebaikan umat, jika dipilih dan ia berkenan pula untuk mundur tatkala diyakini kurang memberikan kemaslahatan bagi umat sekaligus ia mau memberi kesempatan pada generasi yang lebih potensial untuk menjadi pemimpin. Kesediaan untuk maju ke tampuk kepemimpinan, mundur dan memberi kesempatan orang lain maju karena tuntutan masyarakat yang sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh UU adalah bagian dari berkorban. Sebagai rakyat, berkorban adalah menjadi warga bangsa yang baik, partisipatif, kreatif dan mampu melakukan kontrol yang bermoral untuk pemimpin dan lingkungan sosialnya. Rakyat yang siap menciptakan kepemimpinan yang adil, jujur dan bijaksana adalah bagian dari pengorbanannya.
- Berprilaku positif dalam bergaul (mu’asyarah bi al-ma’ruf) dengan keluarga (anak-anak dan istri), orang tua, mertua, serta melakukan proses edukasi yang terus menerus bagi mereka juga bagian dari makna berkorban. Bertutur kata dengan bahasa yang sopan tatkala bergaul atau melakukan kritik konstruktif (bermoral) merupakan bagian dari berkorban. Berpakaian yang sopan, indah, serasi, dan menutup aurat merupakan bagian dari berkorban dalam arti yang lebih aplikatif.
Demikian antara lain artikulasi korban dalam kehidupan riil sehari-hari. Pemahaman akan arti korban seperti ini belum terealisasikan secara konsisten di masyarakat Muslim. Alhamdulillah kaum muslimin sudah mulai banyak yang sadar akan pentingnya “Berkurban dengan Menyembelih Hewan Kurban tetapi yang perlu ditingkatkan adalah Berkurban dalam arti luas yang menyentuh seluruh aspek lehidupan manusia seperti di atas”.
Saloka, diambil dari berbagai sumber









Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari). 