Saat ini jamaah haji kita sedang berada di tanah suci, mendekatkan diri pada Allah Swt di tanah suci. Meneladani prilaku nabi Ibrahim, Ibu Hajar, dan Ismail. Selain napak tilas peribadatan nabi Ibrahim, jamaah haji dan juga semua kaum Muslim disana seharusnya berusaha untuk melakukan perenungan dan akhirnya mencontoh sikap dan perilaku terpuji dari Nabi Ibrahim, Nabi Ismail tak lupa Siti Hajar dalam kehidupan sehari-harinya nantinya. Bagaimana menjadi Bapak yang bijak seperti Nabi Ibrahim, menjadi anak yang cerdas, sopan dan taat pada orang tua sebagaimana Nabi Ismail dan menjadi istri dan ibu yang penuh kasih sayang bagaikan Siti Hajar Ketiganya merupakan model terbaik dalam keluarga dan masyarakat sesuai dengan perannya masing-masing dan ketiganya adalah makhluk terpuji yang rindu akan Tuhannya.
Kita sebagai bangsa yang sedang mengenang Nabi Ibrahin, Nabi Ismail dan Siti Hajar, di Indonesia juga dianjurkan untuk menjadi orang yang terbaik dan manfaat dengan mengemban amanat Ilahi sesuai dengan tugas dan peran kita masing-masing agar nantinya tercipta kehidupan yang harmonis.
Bulan haji, sebagaimana dalam sejarahnya menuntun kita untuk bekerja keras dengan tulus-ihlas dan selalu dekat kepada Allah Swt. Bulan ini kita disadarkan untuk selalu instropeksi diri, “Apakah kita selama ini sudah melakukan kerja positif–profesional (amal sholih), kerja keras, dan semangat tinggi ?. Mengapa hati kita belum terpatri oleh rasa rindu dan selalu mengaharap akan ridlo Allah Swt. Mengapa kita sering kurang jujur dan pemalas? Mengapa kita belum bisa mengoptimalkan hablummnannas (hubungan antar sesame manusia, malah selalu terfokus dengan hubungan vertical dengan sang Kholiq hingga empati kita terabaikan?”.
Marilah kita rancang bangunan hidup kita ini agar selalu dalam garis Tuhan yang penuh semangat juang, berpikir cerdas, hati bersih, kerja keras, dekat dengan Allah Swt sekaligus dekat dengan makhluk-Nya, menjaga keharmonisan sosial dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitarnya dan keharmonisan dengan alam semesta. Menjaga alam agar Ia memberikan yang terbaik bagi kehidupan kita.
Ibadah haji telah mendidik kita untuk menyatukan langkah dengan dasar ketauhidan, visi dan misi yang sama. Bersatu untuk mengemban tugas sebagai makhluk Allah Swt di bumi. Bersatu sebagaimana saudara kita yang bersatu di baitullah dan di padang Arafah saat menunaikan haji. Hentikan perpecahan dan permusuhan, kita rapatkan kembali persatuan. Kita telah tahu akibat perpecahan dan permusuhan yang telah membawa kesengsaraan umat berabad-abad.
Ibadah haji juga telah mengantarkan pelaksananya untuk menerima sebutan Bapak dan Ibu haji. Sebutan tersebut merupakan fenomena sosiologis bagi bangsa kita sejak masa pra dan pasca kemerdekaan. Karena seorang Muslim telah haji ia menjadi contoh panutan sebagai manusia yang mengemban nilai kenabian sekaligus membumikannya dalam kehidupan riil di mana Bapak dan Ibu haji hidup dan bergaul. Semoga pada bulan haji ini kita tersadarkan kembali untuk menuju kesempurnaan dhohir dan batin secara bersamaan.
Semoga kita dapat memperbaiki kehidupan ini agar menjadi lebih baik dan lebih memiliki nilai guna yang tinggi bagi lingkungan serta senantiasa mendapatkan ridlo Allah Swt. Amin.
Saatnya Berkontemplasi di Bulan Haji untuk mereka yang menunaikan dan telah menunaikan Haji………………
Saloka









Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari). 