Wawancara Bersama Ustad Asep Warlan Yusuf
Menurut Ustad Asep Warlan, mengelola keuangan keluarga yang baik dan efektif dimulai dari perencanaannya. Yakni, bagaimana di dalam sebuah rumah tangga jangan sampai “Lebih Besar Pasak daripada Tiang”. Misalnya, pengeluaran sebesar dua juta rupiah perbulan, tetapi penghasilan hanya satu juta rupiah saja. Hal ini akan merepotkan suami dan istri dalam mengelola dan mencari penghasilan tambahan untuk menutupi kekurangan uang tersebut. Lebih riskan lagi bila hal di atas mengganggu stabilitas berjalannya sebuah rumah tangga dan membuat hubungan suami istri menjadi renggang. Namun bukan berarti “Uang adalah segala-galanya, tapi tanpa uang juga kita takkan mampu berbuat apa-apa”. Yang harus kita tanamkan adalah bahwa uang itu seminimal mungkin harus selalu ada untuk keberlangsungan sebuah rumah tangga.
Bagaimana pandangan Islam mengenai manajemen keuangan sebuah keluarga muslim?
Ada sebuah pandangan tersendiri tentang pengertian rezeki dan pengaturan keuangan keluarga. Dimana menurut saya, rezeki harus barokah, yaitu rezeki yang tidak melalaikan diri dalam beribadah kepada Allah SWT. Rezeki barokah adalah memanfaatkan uang dengan sangat jelas porsinya, tidak berlebihan dan tidak terlalu berhemat. Dengan kata lain, tak ada cara mengelola keuangan keluarga kita, selain menjadikan rezeki yang diberikan Allah menjadi keberkahan diri, keluarga dan mudah-mudahan menjadi keberkahan bagi umat. Keberkahan dalam rezeki atau dalam hal apapun memberikan daya hidup bagi yang mendapati keberkahan tersebut. Sedangkan daya hidup adalah sebuah pemicu apapun bentuknya yang memberikan semangat untuk tetap melanjutkan kehidupan ini. Seperti cita-cita dan tujuan hidup. Dalam istilah agama Islam, kita mengenal Baitu Jannati, yang merupakan sebuah daya hidup, dimana di dalam keluarga, mengajarkan setiap anggota keluarganya untuk hidup lebih baik dan mempunyai semangat untuk tetap melanjutkan kehidupannya. Dan yang terpenting adalah membuat hidup kita itu bisa menghidupkan orang lain.
Bagaimana pandangan ustad terhadap maraknya KDRT yang salah satunya sering disebabkan oleh permasalahan keuangan?
Menurut saya, saling percaya antara suami dan istri juga merupakan faktor penting dan kunci sukses dalam mengelola keuangan. Ada sebuah kasus dimana istri maupun suami tidak terbuka dan tidak saling percaya, hingga setelah masalah terus muncul bertubi-tubi sang suami tidak tahan lagi dan menjadi emosi. Akhirnya, KDRT tak terelakkan lagi. Dalam hal ini KDRT akan terjadi karena kita menganggap “Uang adalah segala-galanya”. Pandangan ini lebih sering dimiliki oleh seorang suami dibanding istri, meskipun tidak jarang juga dimiliki oleh seorang istri. Cara meminimalisir KDRT ini hanya dengan satu cara yaitu melakukan perubahan. Baik itu dari sikap sang suami maupun sikap istri, mulai dari perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan keuangan dalam sebuah rumah tangga. Selain terbuka mengenai penghasilan suami dan pengeluaran oleh sang istri, masing-masing diri harus mau saling mengerti dan memahami akan apa yang dimaksud keinginan untuk membelanjakan uang atau kebutuhan untuk mengeluarkan uang? Insyaallah, jika hal ini diterapkan KDRT karena masalah keuangan pun akan bisa teratasi.
Sebenarnya manajerial keuangan dalam keluarga dilakukan oleh istri ataukah suami?
Dalam hal ini tergantung keluarganya, yang dibutuhkan dalam mengelola keuangan keluarga sekali lagi saya katakan adalah “Saling Percaya”. Kalau hal ini tidak dibangun dari awal, maka keuangan rumah tangganya akan berantakan. Tapi, jika sepasang suami istri itu saling mengerti dan saling percaya, maka dapat dipastikan, oleh siapapun keuangan keluarga diatur, hal itu tidak akan menimbulkan konflik atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), bahkan kata perceraian akan jauh dari keluarga tersebut. Jadi, selama sepasang suami istri sama-sama memiliki komitmen tinggi dalam sebuah rumah tangga, takkan jadi soal siapa yang akan menjadi manajer keuangannya. Namun bila keuangan keluarga anda belum baik, mulailah membicarakannya dengan pasangan anda dan sepakati tentang siapa yang akan mengelolanya?.
Dalam Islam, modal utama kebangkitan umat diantaranya pendidikan. Bagimana pula cara kita mengelola keuangan keluarga mengingat pada saat ini pendidikan sangatlah mahal?
Setiap rumah tangga berbeda-beda dalam memprioritaskan anggaran keuangannya. Pendidikan haruslah menjadi salah satu yang kita prioritaskan. Bagi keluarga yang sudah mapan dalam segi ekonomi tidak bermasalah tentang anggaran keuangan untuk pendidikan anak-anak mereka. Tapi bagaimana dengan keluarga yang ekonominya pas-pasan, untuk mendapatkan pendidikan mereka harus berjuang keras dalam memperoleh dan mengelola anggaran rumah tangganya. Antara biaya sehari-hari seperti makan, kebersihan rumah, kesehatan keluarga dan biaya pendidikan. Tak sedikit kepala keluarga yaitu ayah yang memutuskan untuk memberhentikan sekolah anaknya demi kelangsungan hidup dalam keluarganya seperti untuk makan dan biaya sehari-hari lainnya. Sebaiknya, setiap keluarga mengusahakan dari dini dana untuk pendidikan. Sisihkan walau hanya sedikit, secara rutin menabunglah untuk masa depan anak-anak kita. Pisahkan tabungan tersebut dari dana simpanan untuk kesehatan atau simpanan lainnya. Ajak dan biasakan anak juga untuk punya tabungan sendiri. Insyaallah, kelak sebuah keluarga tak perlu khawatir akan dana pendidikan anak-anaknya.
Sebentar lagi Bulan Ramadhan datang, Bagaimana cara mensiasatinya supaya “ Tak besar pasak daripada tiang?”
Tak bisa dipungkiri memang, di Bulan Ramadhan kita akan mendapat banyak berkah dan banyak juga uang yang mesti dikeluarkan, bahkan pengeluaran sebuah keluarga bisa menjadi berkali-kali lipat. Kebanyakan orang di bulan Ramadhan ini Tak jarang kita menjadi royal dalam segala hal. Pertama yang harus diingat adalah “Jangan memaksakan diri untuk bermewah-mewah di Bulan Ramadhan“. Tidak usah menghidangkan beraneka makanan, yang terpenting harus bergizi dan menyehatkan baik dalam memilih, mengelola dan menyajikan makanan tersebut. Supaya semua anggota keluarga dapat kuat menjalani shaum dan ibadah lainnya.
Di Bulan Ramadhan, Kepala keluarga biasanya lebih giat dalam mencari nafkah. Hal ini dilakukan tentu saja untuk mencari tambahan penghasilan. Mempersiapkan uang untuk memenuhi keluarga sebulan penuh, apalagi mempersiapkan untuk hari lebaran. Mulai dari perlengkapan Shalat Ied yang telah menjadi budaya kita dengan disambut segala hal yang baru; dari pakaian, sepatu, bahkan makanan yang disajikan pun tergolong mewah.
Alangkah lebih baik bila kita mengisi Ramadhan ini dengan sisi yang berbeda. Memfokuskan diri dan melatih keluarga untuk membiasakan diri beribadah, membuat mereka (anak-anak kita) merasakan indahnya berbagi dengan sesama, seperti lewat berinfak, membuat mereka belajar untuk lebih menyenangi dengan membaca Al Qur’an dan melengkapi shalat fardu mereka dengan shalat tarawih dan ibadah sunah lainnya. Maka makna Ramadhan kali ini pun akan hadir di tengah-tengah keluarga kita.








Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari). 