Hadist Pilihan :
  • Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sodaqohnya. (HR. Ahmad)...
  • Tiada seorang bersodaqoh dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya. (HR. Ahmad)   ...
  • Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi)     ...
  • Orang yang membatalkan pemberian (atau meminta kembali) sodaqohnya seperti anjing yang makan kembali muntahannya. (HR. Bukhari)   ...
  • Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sodaqoh) sebutir kurma. (Mutafaq'alaih)   ...
     

KEMBALI FITRI

E-mail Print PDF

Oleh : DR Nursanita Nasution. SE., ME. 

Allahu Akbar…Allahu Akbar… Allahu Akbar walillahilhamd

                Takbir berkumandang pertanda perginya Bulan Ramadhan dan munculnya bulan Syawal. Kaum muslimin tersenyum dan  berharap-harap cemas apakah ibadahnya selama Bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT. Jika dan jika, dan hanya jika amal ibadah dan amal sholehnya diterima Allah SWT, tentulah ia sangat suka cita karena itu berarti ia kembali fitri, bagaikan bayi  dilahirkan ke bumi bebas dari dosa.

 

                Kembali ke fitrah bermakna menempatkan segala sesuatu dalam sorotan nurani sesuai dengan tingkat kemaslahatannya. Alangkah bahagianya jika dosa-dosa diampuni Allah SWT. Langkah dan upaya untuk meraih taqwa membuahkan hasil yang diharapkan. Memiliki hidup sesuai fitrah adalah hidup yang bermartabat, hidup yang serba baik (hayatan thayyibah); ramah lingkungan sosial dan ramah lingkungan alam bagi kemaslahatan manusia. Allah berfirman ”Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah keadaannya menjadi baik, dan berdo'alah kepada Allah dengan cemas dan harap, sesunguhnya rahmat Allah itu dekat terhadap mereka yang selalu berbuat ihsan “

(Al A'raf, 56)

                Sebaliknya jika ibadah dan amal sholehnya tidak diterima Allah SWT, artinya gagallah kali ini ia meraih taqwa. Tidaklah ia kembali menjadi fitri. Alangkah sedihnya melihat kondisinya sekarang sedang bergeser atau menyimpang dari fitrah yang artinya ia tidak mendapatkan kemaslahatan bahkan mendatangkan mudarat. Bahaya besar sedang mengancam karena penyimpangan dari fitrah telah mengakibatkan kegelapan dalam hati sehingga menjadi ”qalbun zhulmani”. Dalam kegelapan hati apapun yang dilakukan manusia menjadi lepas dari kendali taqwa, lalu  diambil alih oleh hawa nafsu yang membawa manusia pada kerendahan dan jatuhnya martabat.

Mempertahankan 'fitrah'

                Merupakan kewajiban kita untuk mempertahankan 'fitrah' yang sudah kita peroleh, kita ingin kembali fitri. Dan jika belum kita raih pada Ramadhan tahun ini, hendaklah sejak saaat ini kita berusaha sungguh-sungguh untuk meraihnya. Karena sesungguhnya manusia yang mulia di mata Allah swt adalah manusia yang bertakwa. Jalan untuk meraih taqwa adalah melakukan ibadah. Selain melalui shaum/puasa, bisa juga diraih melalui ibadah umroh atau haji. Semua ibadah ditujukan untuk mencapai ketaqwaan, maka marilah kita disiplinkan sholat fardhu kita dan kita  tambah dengan amal-amal sholat sunnah. Mari kita tunaikan zakat, infaq dan sadaqoh, insyaAllah akan  membuahkan ketakwaan. Allah SWT memerintahkan: “Wahai orang-orang beriman bertakwalah kepada Allah swt dengan sebenar-benar taqwa” (Al Qur’an). Dan Rasululah SAW bersabda :  ”Bertaqwalah engkau kepada Allah dimanapun dan kapanpun juga, ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapuskannya, dan bergaullah bersama manusia dengan akhlak yang baik (Riwayat Tirmidzi dan Ahmad)”.

                Mengingat kebahagiaan yang akan kita dapatkan jika kita senantiasa bertahan dalam 'fitrah' maka hendaklah kita melanjutkan amalan-amalan  yang sudah kita lakukan di Bulan Ramadhan kemarin, antara lain:

1. Menjaga mulut dari perkataan kotor

                Di bulan Ramadhan kita berusaha menjaga pahala ibadah shaum (puasa) kita yang bisa rusak jika kita sembarangan dalam berbicara. Rasulullah saw bersabda: ”Orang muslim itu adalah orang yang menjaga keselamatan masyarakat dari gangguan mulut dan tangannya” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

2. Berbuat kebaikan

                Perilaku santun yang kita lakukan di Bulan Ramadhan harus kita lanjutkan. Bahkan jika kita sedang berpuasa, seseorang yang mengajak kita 'berantem' akan kita jawab dengan ramah: “Maaf saya sedang berpuasa”.  Tidak membuat onar dan senantiasa berusaha menyenangkan orang lain harus menjadi ciri kita. Rasulullah saw bersabda: ”Demi Allah, tidak beriman, tidak beriman, tidak beriman. Sahabat  bertanya:  Siapa itu ya Rasulullah? Sabda beliau: Orang yang tidak menjaga saudaranya, dari perbuatan dirinya yang mengganggu” (Riwayat Muslim).

3. Bekerja secara profesional

                Allah SWT mencintai mukmin yang kuat dibandingkan dengan mukmin yang lemah. Kuat dalam niat, kuat kemauan, kuat motivasi, kuat dalam bekerja, kuat dalam berusaha, kuat fisiknya, kuat ilmunya dan kuat ekonominya. Rasulullah SAW bersabda: ”Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat yang ihsan (lebih baik atau terbaik) dalam segala urusan”. (Riwayat Muslim). Dan sabdanya, ”Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berbuat sesuatu secara profesional” (Riwayat Abu Dawud)

4. Menolong sesama manusia

                Tidak lengkap ibadah puasa Ramadhan seseorang jika ia tidak membayar zakat fitrah. Meskipun jumlahnya tidaklah seberapa namun ini bentuk nyata dari kepedulian sosial kita. Di hari Idul Fitri, kaum muslimin bersuka cita,  janganlah sampai ada seorang muslim yang sedih karena tidak bisa makan. Rasulullah saw bersabda: ”Tidak termasuk golongan kami orang yang tertidur lelap karena kenyang sedang saudaranya lapar, padahal ia mengetahuinya” (Riwayat Thabrani). Dan sabdanya pula : “Barang siapa melepaskan seorang mu'min dari bencana di dunia maka Allah niscaya melepaskannya dari bencana di akhirat, Allah senantiasa menolong hambaNya manakala ia mau menolong saudara/sesamanya” (Riwayat Muslim)

                Keimanan harus dibuktikan dengan amal sholeh. Negeri kita yang tak lepas dari musibah demi musibah yang merupakan ujian bagi keimanan kita kaum muslimin. Peluang beramal sholeh, peluang menolong orang lain senantiasa terbuka lebar, mari kita bahu membahu untuk membantu saudara-saudara kita.  Inilah bukti keimanan kita kepada Allah SWT, karena pada setiap musibah DIA ada di sana. Dalam sebuah hadits Qudsi dijelaskan bahwa Allah SWT  berfirman: ”Wahai anak Adam, AKU sakit tapi kamu tidak menengok Aku. Ya Rabb, Bagaimana mungkin Engkau sakit bukanlah Engkau Rabbul 'alamin? Allah menjawab: ”Celaka engkau, saudaramu sakit tapi tidak kau jenguk, padahal kalau engkau menjenguknya niscaya akan mendapati AKU di sana.  Wahai anak Adam, AKU lapar tetapi engkau tidak memberi AKU makanan”. Lalu manusia bertanya lagi: ”Ya Rabb, Bagaimana mungkin Engkau lapar padahal Engkau Rabbul 'alamin? Jawab Allah: ”Celaka engkau, saudaramu menderita kekurangan/kelaparan, sekiranya engkau memberinya makan niscaya engkau akan mendapati AKU di sana.  Wahai anak Adam AKU tidak berbusana tapi engkau tidak peduli”. Lalu hambanya bertanya lagi: ”Ya Rabb, Bagaimana mungkin Engkau tak berbusana bukankah Engkau Rabbul 'alamin?” Jawab Allah: ”Celaka engkau, saudaramu butuh pakaian tapi engkau diam saja, jika engkau memberi mereka pakaian niscaya akan mendapati AKU di sana”.

Allahu'alam bishawab...
 

Rekening Amal AMANY

Zakat : No.007.007.0900
a.n Percikan Iman/zakat
Wakaf : No.007.007.3000
a.n Percikan Iman/wakaf
Infaq : No.007.007.1010
a.n Percikan Iman/infaq
OTA : No.007.007.1771
a.n Percikan Iman/orang tua asuh
Kemanusiaan : No.007.024.000.1
a.n Percikan Iman/kemanusiaan
Pengangguran : No.007.0233.233
a.n Percikan Iman/atasi penganguran

Bersanding dengan Nabi di Syurga

Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari).
Read More

Testimonial

Ruang Testimonial

Amany Event

Ruang Testimonial

Report Bulanan

Ruang Testimonial
Amany Percikan Iman