(oleh DR Nursanita)
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” [QS. 57: 22-23] .
Musibah itu suatu kepastian
Hidup ini selalu berputar, ibarat siang silih berganti dengan malam, ibarat roda selalu berputar ke atas dan ke bawah, kebahagiaan dan kesenangan juga akan berganti atau diselingi dengan duka dan kesedihan. Musibah atau peristiwa yang membawa rasa duka dan sedih pasti akan kita rasakan. Karena musibah itu pasti akan menimpa kita maka janganlah hal itu mendatangkan kerugian yang lebih besar kepada kita, seharusnya hal itu akan membawa manfaat kepada kita. Bagaimana musibah bisa mendatangkan keuntungan???. Jika seseorang kehilangan orang yang dicintainya, bukankah sedih yang terasa ? Jika seseorang kehilangan hartanya karena kebakaran, kebanjiran, kemalingan, bukankah kesal dan sedih yang terasa? Bagaimana hal itu akan mendatangkan manfaat ??? Sederet pertanyaan mungkin muncul.
Saudara-saudaraku seiman yang mencintai Allah SWT dan RasulNya, apakah akibatnya jika seseorang tidak mau makan dan minum karena tenggelam dalam kesedihannya ? Tentulah ia akan rugi, tubuhnya akan sakit mungkin jiwanya juga terganggu. Apakah akibatnya jika seseorang karena musibah yang menimpanya mencaci-maki PenciptaNya dan tidak menerima musibah tersebut? Marah dan berteriak-teriak menyalahkan orang lain ? Tentulah ia jadi berdosa. Nah, sebaliknya jika kita menerima musibah kemudian ‘diam’, bersabar, mengambil pelajaran serta mendekatkan diri kepada Allah SWT yang menciptakan segalanya, maka kita akan beruntung dan mendapat manfaat.Kita harus mengimani Al Qur’an dan ternyata ‘musibah yang kita alami’ itu sudah termaktub di Lauhul Mahfudz, sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Menerima hal ini merupakan salah satu dari rukun iman yaitu beriman kepada qadha dan qodar. Semua musibah yang terjadi pada diri kita dan juga yang terjadi di muka bumi semuanya berjalan menurut qadha dan qadar Allah SWT. Beriman kepada qadha dan qadar berarti kita wajib meyakini bahwa setiap musibah yang menimpa kita adalah bagian dari kasih sayang Allah SWT kepada kita. Jika lulus dari musibah dan ujian ini, insyaAllah keimanan kita juga akan meningkat. Musibah demi musibah ibarat satuan-satuan anak tangga yang harus dinaiki oleh setiap mukmin. Dan tidak akan pernah seorang mukmin mencapai tangga kesempurnaan iman kecuali harus meniti anak tangga tersebut. Allah SWT berfirman : “Dan pasti kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kekurangan buah-buahan, kekurangan jiwa, dan kami berikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengatakan Inna Lillahi wa Inna ilaihi roji’un…, (sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali padaNya). Mereka akan mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah. Dan mereka itulah yang mendapatkan petunjuk “. (Q.S. 2:155-157)Hidup ini memang penuh ketidakpastian , namun harus kita yakini ada yang pasti yaitu datangnya musibah. Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan iman Muslim menuntun kita saat mengalami musibah (apapun itu) “apabila seseorang tertimpa musibah, ucapkan : Inna Lillahi wa Inna ilaihi roji’un, Allhumma jurni fii Mushibati waaklhif Liy khairan minha”. Sabar dalam menerima musibah. Allah SWT mencintai orang-orang yang sabar, dan Allah SWT senantiasa mengampuni dosa mereka, memberi rahmat dan memberi petujuk kepada mereka . Kapankah kita ‘sabar’ ? , tentu sikap ini diperlukan pada saat kita mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. Sabar itu ada tiga macam yaitu : 1.) Sabar dalam melakukan keta’atan pada Allah SWT, 2.) Sabar dalam menjauhi maksiat, 3.) Sabar dalam menghadapi musibah. Pada saat kita ingin berbuat kebaikan dan beribadah dalam menjalankan perintah Allah SWTt akan banyak tantangannya seperti rasa malas, maka kita sebagai hambaNYA haruslah bersabar. Jika kita ingin menjauhi maksiat yang datang menggoda, ternyata tidaklah mudah, akan banyak jalan dan peluang untuk kita melakukan maksiat; nah, kitapun harus tetap bersabar dan berusaha keras untuk tidak melakukan maksiat. Mengalami musibah, inilah yang sedang kita bahas, sabar haruslah menjadi sikap kita. Sabar dalam menghadapi musibah, artinya sabar saat pertama kali datangnya musibah. Begitu terjadi jagalah perasaan kita untuk berprasangka baik (husnuzhon) kepada Allah SWT , bahwa apa yang Allah SWT tetapkan itu sebenarnya yang terbaik buat kita. Langsung saat kejadian itu kita harus ‘diam dan banyak beristighfar’. Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad saw ketika melewati seorang wanita yang menangisi anaknya karena meninggal dunia, maka Nabi menegurnya. Kemudian wanita ini tidak terima. Kemudian ada sahabat yang mengatakan kepada wanita itu bahwa yang menegur tadi adalah Rasulullah. Maka dia mengejar Rasululullah dan berkata, “ Ya Rasulullah saya minta maaf, saya tidak tahu bahwa tadi itu engkau ya Rasulullah ”. Kemudian nabi saw menjawab : “ Sesungguhnya sabar itu ketika pertama kali terjadi kejadian itu ”. Mendapat keuntungan dari musibah Kita harus pandai memahami setiap peristiwa yang kita temui dalam kehidupan ini . Jika kita mendapat kebahagiaan hendaklah kita bersyukur dan berbagi rasa syukur kepada sesama . Itu salah satu bukti kita kepada Allah SWT . Janganlah kita berlebihan dalam menerima kebahagiaan atau kesenangan tersebut. Janganlah berfoya-foya atau berpesta pora. Di sisi lain jika kita menerima musibah , jadikanlah musibah itu peringatan dan ambil pelajaran dari peristiwa musibah ini. Renungilah penyebabnya, dan jangan diulangi hal-hal demikian. Renungilah apakah ada dosa yang kita lakukan, adakah hak orang lain yang kita ambil ? Bersabar, buktikan dengan diam dan bersikap tenang , perbanyaklah istighfar dan berdoa kepada Allah SWT. Perkataan yang baik, kasih dan sayang diantara anggota keluarga , empati dan saling tolong menolong haruslah dikedepankan. Allah SWT berfirman , “ Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. ” [QS.4 :79]Imam ibnu Qoyyim mengatakan, bahwa ketika mengalami musibah, kita harus ingat, bahwa musibah itu dibandingkan dengan nikmat yang kita peroleh selama ini . Sejak lahir ke dunia sampai sekarang, nikmat yang kita terima dari Allah SWT tidak terhitung dan tak terhingga nilainya. Dan tidak akan mungkin bisa terhitung nikmat itu. Musibah yang menimpa kita, sakit, kehilangan, kebanjiran dan semacamnya hanya sebentar saja. Nikmat hidup ini sudah berpuluh tahun kita rasakan. Maka kita haruslah berperilaku baik dan bersabar dalam menghadapi musibah, insyaAllah kita akan mendapatkan rahmat dan petunjuk dari Allah SWT. Musibah adalah suatu kepastian maka harus kita terima dengan jiwa yang tenang, kalam yang baik. Kita saat ini belum tahu apa musibah yang akan menimpa kita dan kapan terjadinya. Namun cara terbaik untuk menghadapinya adalah dengan perbanyak zikir, do’a dan sedekah. Dari Ali r.a., Rasulullah saw. bersabda, “ Segeralah bersedekah, sesungguhnya musibah tidak dapat melintasi sedekah. Wahai saudara-saudaraku di saat kita masih senang dan berbahagia serta ada kelebihan harta dan rezeki marilah segera berzakat dan perbanyak sedekah “. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah SWT akan menambah kemuliaan kepada hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah SWT, Allah SWT akan mengangkat (derajatnya). (HR Muslim).









Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari). 