Oleh : Ibu Nursanita Nasution
Rasulullah saw bersabda : “Didiklah anak kalian, karena mereka akan hidup di zaman yang berbeda dengan kalian”.
Keluarga adalah unsur penting dalam masyarakat, sebuah unit terkecil yang akan menjadi warna masyarakat. Jika keluarga-keluarga yang ada di dalam masyarakat itu sakinah dan bahagia, maka masyarakat tersebut akan menjadi damai dan sejahtera. Semua itu bisa terwujud bergantung kepada orangtua. Rasulullah SAW mengatakan bahwa ”Anak itu ibarat kertas putih orangtuanyalah yang mewarnai hidup sang anak, bahkan secara tidak langsung orangtualah yang menjadikan seorang anak itu nasrani atau majusi”. Adanya masalah dalam sebuah masyarakat, pertanda bahwa terdapat masalah dalam keluarga-keluarga yang ada dalam masyarakat tersebut.
Orangtua berperan besar dalam menanamkan keyakinan dan keimanan kepada anaknya. Dalam Al Qur'an terdapat kisah menarik mengenai Lukman, sang ayah yang mengajarkan tauhid kepada anaknya dan cara bagaimana menerapkan keimanan tersebut dalam bentuk ibadah dan akhlak. Kisah ini telah menjadi salah satu nama surat di dalam kitab suci kita.
Sebagai orangtua di zaman ini kita bersyukur dengan banyaknya tawaran fasilitas pendidikan, seperti halnya sekolah-sekolah. Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan orangtua mengirim anak mereka belajar di sekolah. Ada orangtua yang menyerahkan anaknya secara penuh kepada sekolah misalnya boarding school atau pesantren. Sehingga waktu untuk berinteraksi antara orang tua dengan anaknya sangatlah minim. Disamping uang yang tidak sedikit, doalah yang harus lebih dominan diberikan kepada anak. Jika hanya di sekolah biasa, maka orangtua harus berperan aktif mendidik anak mereka.
Sekolah hanyalah alat untuk membantu saja, bukan tempat yang sepenuhnya bisa menjamin pendidikan anak kita. Minimalnya orangtua harus memperhatikan apakah anaknya melaksanakan sholat lima kali dalam sehari. Jadi haruslah dijadikan rutin membangunkan anak-anak untuk sholat subuh dan mengingatkan mereka di setiap waktu sholat. Idealnya orangtua mampu memanggil guru untuk mengajarkan Al Qur'an dan Al Islam di rumah. Untuk membekalinya dalam mengenal peradaban dunia bagus jika orangtua memanggil guru atau mengikutkannya les bahasa Arab dan bahasa Inggris. Bila memiliki rejeki yang lebih, programkan umroh keluarga sehingga kecintaan anak kepada Islam semakin mendalam.
Orangtua juga wajib mengajarkan pola makan sehat kepada anak-anak. Kecintaan kepada sayuran dan buah-buahan harus ditanamkan sejak dini. Makanan sehat tidaklah mahal namun harus memenuhi gizi. Pengetahuan orangtua dan teladan mereka dalam pola makan ini sangat dominan. Rasullulah SAW mengingatkan agar kita jangan meninggalkan anak-anak yang lemah nantinya, baik dari sisi keimanan, fisik dan ekonomi. Pengetahuan ibu tentang pola hidup dan pola makan sehat sejak hamil akan membentuk fisik anak. Ajaklah anak-anak mengikuti latihan cabang olahraga tertentu secara rutin. Rasulullah SAW mengatakan yang terbaik adalah berenang dan berkuda.
Anak juga harus dilatih untuk mandiri, ini adalah refleksi tanggung jawab mereka. Dari kecil anak harus sudah terbiasa membersihkan &membereskan tempat tidurnya sendiri, merapihkan buku sekolah sendiri dan membuang sampah pada tempatnya. Jika sudah kelas empat SD, anak hendaknya sudah dibiasakan mencuci piring dan gelas yang dipakainya, mencuci pakaian dalamnya setiap selesai mandi dan menjemurnya, serta mencuci sepeda yang dipakainya. Hal ini akan menanamkan pentingnya anak bertanggung jawab atas apa yang dipakainya dan yang dilakukannya. Jika anak sudah akil baligh maka indikatornya anak sudah bisa mengelola uang yang dimilikinya. Hal ini bisa dimulai dengan memberi tanggung jawab jika bepergian sekeluarga mintalah anak untuk mencatat pengeluaran bersama sehingga jika ia tinggal jauh dari orangtua dia sudah terbiasa mengelola uang yang dimilikinya. Jika sudah kuliah, ajaklah anak untuk mengatur keuangan dia sendiri dan keuangan keluarga bersama.
Secara sosial anak perlu dididik untuk menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Pembiasaan ini harus dimulai dari memperkenalkannya kepada tamu yang datang ke rumah. Sangatlah aneh jika dengan alasan bukan muhrim saat tamu datang, anak diam dan tidak menyapa. Interaksi dan kesantunan harus didik dari rumah. Mengajarkan empati dimulai dengan melibatkannya jika kita mengirimkan oleh-oleh ke tetangga. Mintalah anak yang mengantarkan oleh-oleh atau makanan kepada tetangga.
Anak juga harus diajarkan pentingnya musyawarah. Libatkanlah mereka untuk menentukan jadwal acara keluarga, rekreasi, merayakan syukuran, menjenguk kerabat yang sakit, menghadiri undangan pernikahan dan acara bersama lainnya. Hal ini bisa dimulai dengan senantiasa makan bersama dan sholat berjamaah di rumah minimal sekali dalam sehari. Inilah indikator keakraban dan cinta kasih dalam sebuah keluarga minimal sekali dalam sehari dapat berkumpul secara lengkap. Keluarga adalah tanggung jawab kita, marilah kita jaga keakraban dan cinta kasih di dalamnya. Sebagai orangtua ini adalah investasi jangka panjang bagi kita karena setiap manusia yang meninggal akan terputus semua amalnya kecuali amal jahiryah, ilmu bermanfaat yang diajarkan dan anak sholeh yang senantiasa mendoakannya.
Wallahu 'alam bishawab.
NNMarsel, 2010









Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari). 