Hadist Pilihan :
  • Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sodaqohnya. (HR. Ahmad)...
  • Tiada seorang bersodaqoh dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya. (HR. Ahmad)   ...
  • Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi)     ...
  • Orang yang membatalkan pemberian (atau meminta kembali) sodaqohnya seperti anjing yang makan kembali muntahannya. (HR. Bukhari)   ...
  • Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sodaqoh) sebutir kurma. (Mutafaq'alaih)   ...
     

BerDerma tuk Penuntut Ilmu

E-mail Print PDF

Sebut saja namanya Pak Widi. beliau mungkin sama dengan keluarga lain pada umumnya. Keluarga dengan seorang istri beserta 2 orang anak, yang boleh dibilang keadaan ekonominya pas-pasan. Namun yang menarik dari diri Pak Widi ini adalah keinginannya untuk senantiasa membantu dan meringankan beban orang lain, terutama  anak-anak berprestasi yang tidak mempunyai biaya serta tidak mempunyai kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

            Setiap tahun Pak Widi selalu mencari anak yang berprestasi dengan keadaan ekonomi serba  lemah. Beliau berniat memberikan bantuan dan santunan beasiswa kepada anak-anak yang berprestasi. Pernah suatu ketika beliau menemukan anak yang sangat cerdas dengan mendapatkan nilai tertinggi disekolahnya, namun  sangat disayangkan anak itu tidak memiliki biaya. Jangankan untuk mendaftar ke sekolah, untuk makan sehari-hari pun mereka harus membanting tulang. Meskipun dari prestasi itu, Budi panggilan anak tersebut, mendapatkan bantuan berupa tabungan dari pemerintah,  tetap saja Budi terancam tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke tingkat SMU dikarenakan kedua orangtuanya telah tiada.Tabungan yang ia miliki hanya cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan biaya 2 orang adik-adiknya.

  

       Hati Pak Widi miris melihat kondisi tersebut, potensi yang terlalu amat besar dan langka jika tidak diberdayakan. Akhirnya beliau berjanji pada Budi untuk mendaftarkan ke SMU dan semua biaya akan ditanggung olehnya. Dengan demikian, semua tabungan Budi bisa diunakan untuk kehidupan adik-adiknya. Setiap bulannya, beliau senantiasa memberikan uang beasiswa tersebut, baik untuk biaya SPP, LKS, maupun untuk kebutuhan lainnya. Kesempatan itu tidak Budi sia-siakan, akhirnya berkat perjuangan kerasnya Budi pun dapat melenggang ke universitas favorit tanpa tes.

            Begitu pun ketika di bangku kuliah, Pak Widi selalu memberikan bantuan kepada Budi, walaupun terkadang hanya cukup untuk biaya fotocopy saja, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan lainnya Budi harus mencari beasiswa lainnya ataupun bekerja sambilan. Kebahagian Pak Widi membuncah ketika tahu bahwa anak didiknya mendapat predikat Cumlaude di kuliahnya, dan tanpa harus menunggu menganggur kini Budi telah bekerja di seberang Sumatera.

            Sampailah saat-saat dimana Pak Widi diuji keimanannya. Keadaan ekonominya kini terhimpit. Usaha yang dirintisnya bangkrut. dikarenakan kedua orangtuanya telah tiada.Tabungan yang ia miliki hanya cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan biaya 2 orang adik-adiknya.

            Hati Pak Widi miris melihat kondisi tersebut, potensi yang terlalu amat besar dan langka jika tidak diberdayakan. Akhirnya beliau berjanji pada Budi untuk mendaftarkan ke SMU dan semua biaya akan ditanggung olehnya. Dengan demikian, semua tabungan Budi bisa diunakan untuk kehidupan adik-adiknya. Setiap bulannya, beliau senantiasa memberikan uang beasiswa tersebut, baik untuk biaya SPP, LKS, maupun untuk kebutuhan lainnya. Kesempatan itu tidak Budi sia-siakan, akhirnya berkat perjuangan kerasnya Budi pun dapat melenggang ke universitas favorit tanpa tes.

            Begitu pun ketika di bangku kuliah, Pak Widi selalu memberikan bantuan kepada Budi, walaupun terkadang hanya cukup untuk biaya fotocopy saja, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan lainnya Budi harus mencari beasiswa lainnya ataupun bekerja sambilan. Kebahagian Pak Widi membuncah ketika tahu bahwa anak didiknya mendapat predikat Cumlaude di kuliahnya, dan tanpa harus menunggu menganggur kini Budi telah bekerja di seberang Sumatera.

            Sampailah saat-saat dimana Pak Widi diuji keimanannya. Keadaan ekonominya kini terhimpit. Usaha yang dirintisnya bangkrut.

            Namun, beliau senantiasa tetap memberikan beasiswa kepada siswa  yang berprestasi. Bahkan untuk terus membayar bulanan anak asuhnya, beliau sampai berhutang kesana kemari. Dan yang paling menakjubkan,  beliau rela menjual motornya yang mungkin boleh dikatakan sebagai kendaraan agar mobilitasnya ke kantor mudah.

            Keimanan Pak Widi begitu fantastis, menghunjam begitu dalam melebihi manusia lain pada umumnya. Orang lain mungkin akan berpikir 1000 kali untuk melakukan hal segila itu. Tapi itulah Pak Widi, hatinya terlalu bening, raganya terlalu kokoh, keimanannya terlalu dalam, empatinya begitu kuat,  jiwanya terlalu luas seluas samudera. Dalam dirinya hanya ada satu niat, satu tekad, satu hasrat yang kuat, “Berbagi dengan Orang Lain”.

            Pak Widi selalu yakin dengan apa yang dilakukannya, ia yakin suatu saat Allah SWT akan melihat semua jerih payahnya. Ia hanya berharap balasan dari Sang Khalik semata. Walaupun tidak di dunia, DIA akan membalasnya di akhirat kelak. Perasaan itu selalu beliau tanamkan di dalam sanubarinya yang terdalam untuk senantiasa memotivasi jiwanya. bahkan membakar semangatnya agar senantiasa bermanfaat bagi kehidupan orang lain.

            Kini, motor Pak Widi yang telah dijual telah berubah menjadi mobil mewah keluaran terbaru. Kini, anak-anak beliau pun dapat bersekolah dan menggali ilmu di universitas terkemuka. “

            “Ini adalah balasan Allah SWT kepada saya, serta ada doa-doa mereka, doa yang begitu tulus, doa dari anak-anak papa yang  khusuk , yang senantiasa mereka panjatkan siang dan malam”  Tukas Pak Widi.

            Itu adalah satu diantara kisah-kisah yang menggugah jiwa. Kisah Seorang yang Berderma untuk para Penuntut Ilmu. Maka benarlah firman Allah SWT : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, Kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” .

(Redaksi, dari berbagai sumber)

 

Rekening Amal AMANY

Zakat : No.007.007.0900
a.n Percikan Iman/zakat
Wakaf : No.007.007.3000
a.n Percikan Iman/wakaf
Infaq : No.007.007.1010
a.n Percikan Iman/infaq
OTA : No.007.007.1771
a.n Percikan Iman/orang tua asuh
Kemanusiaan : No.007.024.000.1
a.n Percikan Iman/kemanusiaan
Pengangguran : No.007.0233.233
a.n Percikan Iman/atasi penganguran

Bersanding dengan Nabi di Syurga

Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari).
Read More

Testimonial

Ruang Testimonial

Amany Event

Ruang Testimonial

Report Bulanan

Ruang Testimonial
Amany Percikan Iman