Hadist Pilihan :
  • Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sodaqohnya. (HR. Ahmad)...
  • Tiada seorang bersodaqoh dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya. (HR. Ahmad)   ...
  • Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi)     ...
  • Orang yang membatalkan pemberian (atau meminta kembali) sodaqohnya seperti anjing yang makan kembali muntahannya. (HR. Bukhari)   ...
  • Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sodaqoh) sebutir kurma. (Mutafaq'alaih)   ...
     

Skenario Sang Sutradara

E-mail Print PDF

Hidup di dunia itu seperti RODA, berputar. Kadang senang terus sedih, kadang kaya jadi miskin. Semua orang mengalami hal itu, termasuk aku. Dulu waktu duduk di bangku Sekolah Dasar aku hidup serba ada. Apa yang diinginkan terwujudkan. Bak seperti Putri Raja, apabila keinginannya tidak terlaksana sang Putri akan marah besar pada pelayannya.

Duduk di bangku SMP, semuanya lenyap seketika, seperti tertelan bumi. Sang Maha Kuasa marah atas tingkah lakuku yang sombong. Dia mengambil lagi kepunyaan-Nya yang dititipkan pada keluargaku. Marah, benci, kesal itu yang aku rasakan pada saat itu. Ibadahku terbengkalai, kehidupan glamor yang sudah pergi membuat aku stress, dan membenci-Nya.


Pada saat itu Sang Maha Pencipta tidak diam begitu saja. Dia memerintahkan malaikatnya untuk memberikan aku hidayah. Seorang ibu yang aku sayangi menasihatiku, yang membuat ku tersadar, dan berubah. Sadar akan keadaanku yang sekarang dan berubah untuk jadi orang yang sederhana.

Kita hanya hidup berlima, aku, ibu dan ketiga adikku. Semenjak kejadian itu ayahku pergi entah kemana? Sekarang hanya ibu yang menjadi tulang punggung keluarga, membanting tulang sendirian untuk mencari sesuap nasi. Biaya sekolah tiap bulannya hanya bisa menunggak, berharap Sang Maha Kaya memberikankan rejeki untuk melunasinya.

Aku tidak bisa diam seperti ini, mengandalkan ibuku atau berharap keajaiban yang entah kapan datang. Aku memutuskan berjualan kue di sekolah untuk mengurangi beban ibuku. Malu, itu pertama kali yang aku rasakan saat berjualan. Bahkan ada egelintiran orang yang mencemoohku dan membuang semua kue jualanku. Aku hanya bisa diam, menangis dan bersabar. Menunggu keadilan datang. Penghasilan dari berjualan memanglah tidak seberapa, tapi setidaknya aku punya uang saku yang sedikitnya dapat membantu ibu.

Suatu ketika, setan merasuk ke dalam tubuhku. Ibuku pun menjadi sasaran amarahku. Masalahnya hanya sepele,  gara-gara aku lapar dan dirumah tidak ada makanan sedikitpun. Ibu menangis, namun bukan karena amarahku, tapi karena ibu merasa tidak bisa memberikan anak-anaknya makan. Melihatnya seperti itu, aku tersadar sudah menyakitinya. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Kupeluk ibu sembari meminta maaf padanya dan memohon ampun pada Illahi.

Ketika matahari naik sepenggalan, aku tidak sengaja melewati kamar ibu. Ia sedang bersujud di sajadah panjangnya dengan mukena biru. Semakin hening, semakin jelas terdengar isakan tangis ibu yang mengundang aku untuk mengintipnya. Baru pertama kali aku melihat ibu seperti itu. Ibu memang selalu menutupi kesedihan pada anak-anaknya.

Dalam doa yang mengharu biru, Ibu memohon supaya ayah cepat pulang. Mendengar itu semua air mata ini tak sadar berjatuhan membasahi pipiku. Di satu sisi lain aku membencinya karena ia telah meninggalkan kami. Bagaimana pun dia tetaplah Ayah kami, kami rindu sekali padanya.

Singkat cerita, sekarang aku duduk dibangku SMA. Tiga tahun sudah aku melewati ujian-Nya. Doa ibu, aku dan adik-adikku sedikit-demi sedikit terkabulkan oleh-Nya. Dari mulai pendidikan kami yang terbantu oleh AMANY Percikan Iman melalui Beasiswa Percikan Iman, otomatis secara tidak langsung menyebabkan perekonomian kami pun mulai stabil dan kepulangan ayah ke rumah yang tak terduga. “Terimakasih Ya Rabb, Engkau memang tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya”.

 

Cicalengka, 20 April 2010

Esti Annisa Nurfitri

Anak Asuh Beasiswa Percikan Iman

 

Rekening Amal AMANY

Zakat : No.007.007.0900
a.n Percikan Iman/zakat
Wakaf : No.007.007.3000
a.n Percikan Iman/wakaf
Infaq : No.007.007.1010
a.n Percikan Iman/infaq
OTA : No.007.007.1771
a.n Percikan Iman/orang tua asuh
Kemanusiaan : No.007.024.000.1
a.n Percikan Iman/kemanusiaan
Pengangguran : No.007.0233.233
a.n Percikan Iman/atasi penganguran

Bersanding dengan Nabi di Syurga

Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari).
Read More

Testimonial

Ruang Testimonial

Amany Event

Ruang Testimonial

Report Bulanan

Ruang Testimonial
Amany Percikan Iman