Tahu Lembang, Sabtu, 10 Juli 2010
Sabtu pagi yang cerah, rombongan peserta yang terdiri dari orangtua asuh, anak asuh dan juga panitia dari AMANY tiba di sebuah tempat yang sangat asri. Dimana lagi kalau bukan di daerah wisata Lembang-Bandung tepatnya di Tahu Lembang. Namun tak sebatas hanya berwisata saja, dengan tema “Dahsyatnya Wisata Tahu Bersama Anak Prestatif”, panitia bukan hanya mengajak kita untuk tahu tentang Proses Pembuatan Tahu Lembang, namun mengajak kita untuk lebih tahu mengenai empati dan indahnya berbagi.
Selain berbagai games yang bisa mengeratkan antara anak asuh prestatif AMANY dan Donatur BsPI, kemeriahan acara lebih meriah lagi saat talkshow bersama Ustadz Tauhid Nur Azhar. Dengan pembawaan yang ramai dan humoris, beliau menerangkan bagaimana pentingnya pendidikan dengan penuh kasih sayang dan balutan cinta terhadap anak-anak kita. dan rasa sayang itu harus dibagi juga kepada anak siapa pun, mau anak tetangga atau bahkan pada anak-anak yang tidak kenal.
Salah satu paparannya yang paling menarik adalah mengenai kebiasaan menyayangi anak-anak kita dengan cara berkomunikasi verbal (kata-kata) atau non verbal (sentuhan, tatapan dan sosok keberadaan kita di mata mereka). Apabila itu telah diberikan dengan baik, maka akan ada suatu zat kimia yang bernama “Gen Cinta” yang akan menghasilkan timbulnya rasa empati pada diri mereka terhadap sesama.
Dikala empati kita untuk mereka, kita tunjukan dengan sepenuh hati dan bisa terhayati. Anak akan merasakan pengakuan dari kita secara de facto maupun de jure. Makanya setiap orangtua harus bisa mengembangkan pola-pola komunikasi sampai ke tempat yang tak terjangkau, yakni sampai alam bawah sadar anak-anak kita. Sehingga saat ia melakukan kesalahan dia akan menyadari kesalahannya, bukan memiliki efek trauma karena dimarahi orangtuanya. Terkadang orangtua terlalu menekankan target kepada anak-anaknya, tanpa tahu perasaan mereka. Jadi ketika mereka belajar pun itu karena terpaksa.
Ada suatu kenyataan yang luar biasa, kenyataan ini sesuai dengan perintah Rasul SAW yang menyuruh kita untuk menyayangi anak-anak dengan mengusap kepalanya. Hal ini terbukti dengan sebuah penelitian para ahli di Amerika. Bahwa pusat kasih sayang bersumber di tengah kepala. Para ahli tersebut meneliti penjahat kambuhan seperti pembunuh berantai, ternyata dalam tubuh mereka tidak memiliki zat kimia yang bernama “Gen Cinta”. Latar belakang mereka pun ternyata merupakan anak-anak yang kekurangan kasih sayang.
Pada umumnya, anak-anak tersebut akan mengalami stress yang sistematik dan memiliki perilaku yang agresif. Diantaranya adalah anak menjadi pemarah, pribadi yang bodoh namun jahat. Karena otak depan mereka tak bekerja dengan baik dan yang bekerja adalah nafsu. Namun dalam stress dengan tingkatan yang lebih rendah adalah ia akan tumbuh menjadi orang pintar namun jahat. biasanya mereka akan punya kepribadian yang licik, karena nafsu bekerja dan dan otak depan bekerja.
Kini setelah kita tahu arti pentingnya kasih sayang terhadap anak-anak, maka yang mesti kita lakukan adalah menggulirkan “Gen Cinta” tersebut dengan cara terbaik. dan mulailah intropeksi diri kita, apakah selama ini yang kita bangun ke anak-anak kita kasih sayang positif atau kasih sayang yang negatif. Maka semakin kita tahu, harus bisa menjadikan kita menjadi manusia yang berkasih sayang., terlebih lagi ke anak-anak dhu’afa, salah satunya kepada Anak Prestatif BsPI AMANY. -Redaksi-









Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari). 