Gardner menyebutkan ada 7 Kecerdasan Dasar yang dimiliki oleh seorang anak dengan Multiple Intelegensi, diantaranya adalah:
1. Kecerdasan musik (musical intelligence),
2. Kecerdasan gerakan badan (bodily-kinesthetic intelligence),
3. Kecerdasan logika-matematika (logical mathematical intelligence),
4. Kecerdasan linguistic (linguistic intelligence),
5. Kecerdasan ruang (spatial intelligence),
6. Kecerdasan antar pribadi (interpersonal intelligence),
7. Kecerdasan intra-pribadi (intrapersonal intelligence).
Tak ada satu orang pun di dunia ini yang memiliki kesamaan dalam segala aspek, begitu pun dengan anak-anak. Setiap anak mempunyai keunikannya, baik karakteristik, minat maupun bakat. Namun jika dikatakan bahwa setiap anak adalah anak berbakat, maka hal itu adalah suatu klaim yang tidak bisa dibenarkan.
Para ahli menjelaskan hakikat keberkatan atau gifted ialah suatu istilah yang merujuk pada adanya satu atau beberapa potensi yang dimiliki oleh seorang anak atau individu yang sifatnya di luar keumuman (extra ordinary), keterkecualian (exceptional) dan di luar normal (beyond the norm) dalam hal kemampuan atau potensi bawaan (genetically herediter). Seperti anak yang memiliki IQ yang berada di atas 140 (Lewis B Terman, 1900-an), anak-anak yang menunjukkan suatu bentuk bakat yang istimewa dan tak lazim misalnya anak yang mahir dengan rumus matematika dan kemampuannya setaraf dengan profesor atau seorang ahli (Sir Francis Galton, 1896).
Namun definisi tersebut tak hanya sebatas kemampuan yang istimewa saja, karena pada tahun 1926 Leta Hollingworth, seorang ahli psikologi pendidikan Amerika Serikat, merilis bukunya yang bertajuk ”Gifted Children, Their Nature and Nurture”. Ia mengungkap keberbakatan tanpa adanya pola pengasuhan dan ketersediaan lingkungan yang mendukung maka potensi keberbakatan istimewa tersebut hanya akan tinggal potensi, tak akan pernah teraktualisasi.
Sebelumnya Terman pun mengatakan tentang kesuksesan anak dengan keberkatan istimewa ini bukan semata disebabkan karena kapasitas kognitif mereka yang sangat tinggi, tetapi juga disumbangkan oleh faktor-faktor non kognitif yang mereka miliki seperti semangat, motivasi, komitmen, ketekunan, dan keberanian mengambil risiko.
Pada 1970-an Jozeph Renzulli dari Universitas Connecticut, dalam teorinya yang terkenal “The Three Rings of Giftedness”. Mengungkapkan keberbakatan istimewa baru akan dapat muncul dan teraktualisasikan jika terdapat 3 sifat utama pada diri seorang individu. Ketiga tersebut adalah :
1. Potensi kognitif atau kapasitas intelektual yang berada pada kisaran di atas rata-rata (High Potential Ability).
2. Dorongan atau motivasi yang kuat untuk meraih tujuan (Task Commitment).
3. Kreatifitas (Creativity).
Jika seorang anak hanya memperlihatkan salah satu indikasi dari tiga sifat utama di atas, maka belum tentu anak tersebut dikatakan anak berbakat istimewa. Definisi paling mutakhir yang disepakati oleh para ahli, baik dalam ranah psikologi maupun pendidikan adalah teori Gagne yang diperbaharui pada tahun 2003. Keberkatan istimewa merupakan hasil interaksi antara faktor keturunan (genetic) dan faktor tumbuh kembang (developmental) yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan.
Ternyata dianugerahi keberkatan istimewa saja tidak cukup menghantarkan seorang manusia untuk menggapai kesuksesannya di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Islam telah melampaui definisi-definisi yang dikemukan oleh para ahli dalam memandang keberkatan istimewa ini.
Dalam Islam, kita akan mengenal manusia-manusia yang berbakat istimewa ketika manusia tersebut bisa menorehkan karya dengan keimanannya. Karena inti dari penciptaan alam semesta beserta isinya hanyalah ketauhidan kepada Allah SWT. Maka bagaimana manusia yang berbakat ini bisa mencapai inti penciptaan tersebut dengan akal yang telah Allah SWT berikan padanya.
Wallahualambishawab
Redaksi/ Iin
Dari berbagai sumber.









Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari). 