Hadist Pilihan :
  • Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sodaqohnya. (HR. Ahmad)...
  • Tiada seorang bersodaqoh dengan baik kecuali Allah memelihara kelangsungan warisannya. (HR. Ahmad)   ...
  • Turunkanlah (datangkanlah) rezekimu (dari Allah) dengan mengeluarkan sodaqoh. (HR. Al-Baihaqi)     ...
  • Orang yang membatalkan pemberian (atau meminta kembali) sodaqohnya seperti anjing yang makan kembali muntahannya. (HR. Bukhari)   ...
  • Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sodaqoh) sebutir kurma. (Mutafaq'alaih)   ...
     

Kepemimpinan Orangtua dalam Membentuk Watak Anak

E-mail Print PDF

Oleh : Nia Sutisna, M.Si

Era globalisasi teknologi  informasi  dan komunikasi, serta seni dan budaya sudah jelas  berkembang dan berpengaruh terhadap perilaku manusia, baik di kota maupun  di desa, termasuk dalam keluarga dan anak-anak. Bagaimanakah keluarga menyikapi hal ini?

Keluarga merupakan madrasah pertama yang bertugas mengasuh dan mendidik anak-anak, laki-laki ataupun wanita. Tugas dan sikap utama keluarga adalah memenuhi kebutuhan jasmani, rohani, dan sosial anggota keluarganya. Yang mencakup pemeliharaan dan perawatan anak-anak, membimbing perkembangan kepribadian anak-anaknya dan memenuhi emosional anggota keluarga yang telah dewasa.

 

Tentu saja peran ayah dan ibu sangat menentukan, mereka berdua yang memegang tanggung jawab seluruh anggota keluarga. Merekalah yang menentukan kemana keluarga itu akan dibawa, watak dan kepribadian serta warna apa yang akan diberikan keluarganya. 

Dalam pembentukan sikap dan watak anak ditemui bermacam-macam perilaku orang tua. Secara teoritis perilaku tersebut dikelompokkan menjadi tiga, yaitu perilaku otoriter, demokratis dan laissez-faire (Idris dan Jamal, 1992:87-90).

1.            Perilaku orang tua yang otoriter, dimana orang tua menentukan segala-galanya. Orang tua tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk berbuat dan bertindak memilih sendiri. Hal tersebut akan berakibat fatal terhadap diri anak dan merasa ditekan serta ketergantungan pada kehendak orang tua. Diantaranya anak memperlihatkan perasaan dengan penuh ketakutan, merasa tertekan, kurang pendirian, mudah dipengaruhi, dan sering berbohong, khususnya pada orang tua sendiri. Kenapa hal ini terjadi sebab orangtua yang otoriter cenderung akan berperilaku :

a.            Anak harus mematuhi peraturan-peraturan orang tua yang tidak boleh membantah.

b.            Orang tua cenderung mencari kesalahan-kesalahan pada pihak anak, dan kemudian menghukumnya.

c.             Kalau terdapat perbedaan pendapat antara orang tua dan anak maka akan dianggap sebagai orang yang suka melawan dan membangkang.

d.            Orang tua cenderung memberikan perintah dan larangan terhadap anak.

e.            Orang tua cenderung memaksa disiplin.

f.             Orang tua cenderung menentukan segala sesuatu untuk anak, dan anak hanya sebagai pelaksana.

2.    Perilaku orang tua yang demokratis antara lain:

a.            Melakukan sesuatu dalam keluarga dengan cara musyawarah.

b.            Menentukan peraturan-peraturan dan disiplin dengan memperhatikan dan mempertimbangkan keadaan, perasaan, dan pendapat anak, serta memberikan alasan-alasan yang dapat diterima, dipahami dan dimengerti oleh anak.

c.             Kalau terjadi sesuatu pada anggota keluarga selalu dicari jalan keluarnya (secara musyawarah), juga dihadapi dengan tenang, wajar dan terbuka.

d.            Hubungan antara keluarga saling menghormati, orang tua menghormati anak sebagai manusia yang sedang bertumbuh dan berkembang. Pergaulan antara ibu dan ayah juga saling menghormati.

e.            Terdapat hubungan yang harmonis antara anggota keluarga, seperti antara ibu dan ayah, antara orang tua dan adik-adiknya, dan sebaliknya.

f.             Adanya komunikasi dua arah, yaitu anak juga dapat mengusulkan, menyarankan, sesuatu pada orang tuanya dan orang tua mempertimbangkannya.

g.            Semua larangan dan perintah yang disampaikan kepada anak selalu menggunakan kata-kata mendidik, bukan menggunakan kata-kata kasar, seperti kata tidak boleh, wajib, harus dan kurang ajar.

h.            Memberikan pengarahan tentang perbuatan baik yang perlu dipertahankan dan yang tidak baik supaya ditinggalkan.

i.              Keinginan dan pendapat anak diperhatikan, apabila sesuai dengan norma-norma dan kemampuan orang tua.

j.             Memberikan bimbingan dengan penuh perhatian.

k.            Bukan mendiktekan bahan yang harus dikerjakan anak. Namun selalu disertai dengan penjelasan-penjelasan yang bijaksana.

 

Kepemimpinan demokratis, adalah kepemimpinan yang terbuka yang dilakukan dengan cara musyawarah mufakat. Artinya selaku orang tua dalam bertindak dan mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan anak dan keluarga dilaksanakan dengan perasaan dan pertimbangan. Hal tersebut akan memberikan dampak positif kepada anak, salah satunya anak akan berkembang sesuai dengan tingkat atau fase perkembangannya, merasa diakui dan hormat pada orang tua.

3.            Perilaku orang tua yang Laissez-Faire, antara lain:

a.            Membiarkan anak bertindak sendiri, orang tua tanpa memonitor dan membimbingnya.

b.            Mendidik anak acuh tak acuh, bersifat pasif, atau bersifat masa bodoh.

c.             Terutama memberikan kebutuhan material saja.

d.            Membiarkan saja apa yang dilakukan anak (terlalu memberikan kebebasan untuk mengatur diri sendiri tanpa ada peraturan-peraturan dan norma-norma yang digariskan orang tua).

e.            Kurang sekali keakraban dan hubungan yang hangat dalam keluarga.

Perilaku orang tua yang Laissez-Faire dimana orang tua dalam memimpin membiarkan anak untuk berbuat sesukanya. Orang tua bersifat acuh tak acuh. Kepemimpinan yang demikian akan membawa dampak negatif terhadap perkembangan dan diri anak. Misalnya anak kurang sekali menikmati kasih sayang orang tuanya. Oleh karena itu pertumbuhan jasmani, perkembangan rohani dan sosial sangat jauh berbeda dibawah rata-rata jika dibandingkan dengan anak-anak yang diperhatikan oleh orang tuanya. (Zahara dan Lisma, 1992:87-90).

                Semoga kita sebagai orang tua bisa memilih perilaku terbaik untuk membentuk keluarga yang akan  berperan dalam mendidik, mengajar, membimbing, dan melatih anak, agar anak berilmu dan berpengetahuan banyak. Ajaran Agama Islam menyebutkan : Uthlubullielma minal mahdi ilallahdi  (Carilah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat). Adam Smith, A.L (Inggris, 1919) : mengusung konsep bahwa pendidikan itu tidak hanya bagi anak, tetapi juga penting bagi orang yang sudah dewasa (usia tua sampai lanjut usia). Konsep pendidikan orang dewasa tersebut dipandang secara tersirat telah memunculkan konsep pendidikan seumur hidup.

Bandung, Juli 2010

 

Rekening Amal AMANY

Zakat : No.007.007.0900
a.n Percikan Iman/zakat
Wakaf : No.007.007.3000
a.n Percikan Iman/wakaf
Infaq : No.007.007.1010
a.n Percikan Iman/infaq
OTA : No.007.007.1771
a.n Percikan Iman/orang tua asuh
Kemanusiaan : No.007.024.000.1
a.n Percikan Iman/kemanusiaan
Pengangguran : No.007.0233.233
a.n Percikan Iman/atasi penganguran

Bersanding dengan Nabi di Syurga

Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari).
Read More

Testimonial

Ruang Testimonial

Amany Event

Ruang Testimonial

Report Bulanan

Ruang Testimonial
Amany Percikan Iman