Oleh Dr. Aam Amiruddin
Nabi Ibrahim sangat bahagia melihat keadaan Hajar dan Ismail yang dianugrahi banyak rahmat oleh Allah. Tempat yang dulu tandus dan terpencil itu sekarang ramai dikunjungi para kabilah. Nabi Ibrahim pun sering mengunjungi Hajar dan Ismail. Dia dan istrinya, Hajar, mendidik Ismail menjadi seorang anak yang beriman kepada Allah.
Sewaktu Ismail mencapai remaja , Nabi Ibrahim bermimpi bahwa dia harus menyembelih ismail. Nabi Ibrahim termenung karena itu merupakan perintah Allah yang sangat berat. Sebagai seorang ayah, dia tidak tega anak semata wayangnya dijadikan kurban. Namun, sebagai seorang Nabi dia harus mendahulukan cintanya kepada Allah daripada kepada keluarga dan harta bendanya.
Allah mengetahui kebimbangan hati Nabi Ibrahim. Maka Allah berfirman , “ Aku lebih mengetahui di mana dan kepada siapa Ibrahim mengamanatkan risalah-Nya.” Nabi Ibrahim pun kemudian menguatkan hatinya. Ibrahim pun memanggil putranya, Ismail.
“wahai putraku, sesungguhnya dalam mimpiku aku diperintahkan untuk menyembelihmu, bagaimana pendapatmu?”
“wahai ayah, lakukanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu. Insya Allah aku menjadi orang-orang yang sabar.
Nabi Ibrahim memeluk Ismail dan mencium kedua pipinya. Ibrahim kemudian berkata, “Aku sangat bahagia memiliki seorang putra sepertimu yang taat kepada Allah dan berbakti kepada orangtua.”
Sebuah gambaran yang sangat menakjubkan yang kemudian Allah SWT. abadikan the true story of Ibrahim dengan anaknya, Ismail dalam kitab suci Al Qur’an akan pentingnya komunksai. Kisah yang sangat menggugah hati akan cinta dan pengorbanan. Pertanyaannya, Ketika kita dihadapka pada persoalan yang sama, bagaimana kita akan berbuat? dan apa reakasi dari anak kita?
Setiap orang tua, tentu termasuk anda, akan merasa bahagia saat melihat kenyataan anak-anak anda sangat menaati anda. Tanpa harus diperintah, misalnya, membantu pekerjaan-pekerjaan anda sepenuh hatinya, bahkan segera pergi beribadah manakala panggilan untuk beribadah datang menjelang. bagaimana cara mewujudkannya?
Hal yang pertama yang harus diperhatikan orang tua untuk mewujudkan itu semua adalah dengan penanaman pengetahuan tentang moral dan norma-norma yang berlaku, khususnya norma agama demi kesuksesan hidupnya didunia dan akhirat. Kedua, bangun karakter anak, sehingga setiap norma yang sudah ditanamkan melekat menjadi kepribadian.
Namun kebanyakan orang tua beranggapan bahwa kalau anak mengaji atau belajar agama saja tanpa didukung dengan membangun karakternya, dengan sendirinya anak akan mempunyai moral yang baik. Sesungguh Banyak kejadian yang kita lihat bahwa mempunyai pengetahuan agama yang baik ternyata belum tentu menjamin perilakunya.
Didalam membangun karakter putra-putri kita ada beberapa hal yang hal yang penting untuk diperhatikan oleh setiap orangtua, Sehingga setiap pilihannya dalam berkembang tidak akan melenceng dari norma yang telah ditanamkan. Diantaranya :
1. Anak yang mendapatkan cinta dan perhatian hangat dari orangtuanya akan merasa bahwa dirinya berharga, yang selanjutnya akan membuatnya percaya diri. Anak yang percayadiri akan mudah berteman dan tidak mudah terpengaruh hal-hal ngatif. Ibnu Maskawih dalam tahdzibul akhlak mengatakan, “ seorang anak hendaknya diberi pujian dan dihargai saat menampilkan akhlak mulia atas setiap pilihannya dan melakukan pekerjaan yang baik”
2. Orangtua yang hangat dan penuh perhatian akan menjadi model bagi anak bagaimana seharusnya memperlakukan orang lain. Seorang ayah yang bangun tengah malam untuk memberikan minyak kayu putih di dada anakanya yang sakit, sambil mengelus kepalanya secara tidak langsung akan mengajarkan bagaimana memperlakukan orang yang sakit. Maka jadilah teladan yang baik bagi anak-anak kita.
3.Anak yang memiliki hubungan emosional secara erat dengan orangtuanya akan berusaha berprilaku sesuai dengan harapan orangtuanya meniru setandar etika yang berlaku. Maka, gunakan siasat napas panjang saat menyikapi kesalaha anak, jangan marah agar tidak merusak hubungan emosional, gunakan sabar dan kemampuan analisis kita saat menyikap kesalahan anak, karena boleh jadi kesalahan yang dilakukan anak merupakan wujud dari niat baiknya. Contoh seorang anak menggambarkan kebahagiaan saat bersama ayah dengan mencorat coret tembok.
Allah Swt. Berfirman, tetapi. Orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (Q.S. Asy syura, 42:43)
4.Orang tua yang hangat dan penuh perhatian akan memacu perkembangan moral anak menuju tahapan yang lebih tinggi. Sesungguhnya Rasululahpun mencontokan, Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. Mendudukan Usmah bin Zaid di atas pahanya dan mendudukan Hasan di atas pahanya yang lain. Beliau lalu memeluk mereka berdua seraya mengatakan, “Ya Allah, rahmatilah mereka berdua karena aku menyayangi mereka.”
5.Orang tua yang memberikan cinta dan perhatian kepada anaknya akan membuat komunikasi antara orang tua dan anak menjadi lancar dan terbuka.
6. Terjalinnya komunikasi yang hangat akan menumbuhkan rasa nyaman dalam menentukan pilihannya. Sehingga anak berani mengungkapkan pilihannya. belajar untuk lebih mandiri dan bertanggung jawab atas pilihannya. ( tentunya berdasarkan bimbingan dan penjelasan akan setiap pilihannya dari para orangtua itu sendiri). Tuhan pun memberikan pilihan kepada setiap manusia, dan manusia di berikan kebebasan dalam memilih. Dalam firmannya “ maka dia diwajibkan membayar fidyah, berupa puasa atau sedekah atau hajji”(Q.S. Al-Baqarah:196)









Rasulullah saw. bersabda, “Saya yang menanggung (memelihara) anak yatim dengan baik ada di surga bagaikan ini, seraya Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan Beliau rentangkan kedua kaki jarinya itu” (H.R. Bukhari). 